Selasa, 26 Agustus 2025

Catatan tentang Pendidikan

 

Latihan: seorang siswi SD latihan baca puisi dj Yayasan Kertas Budaya Indonesia, Kabupaten Jembrana, Bali









Tentang dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang semakin komplek. Perkembangan teknologi modern semestinya menjadi sarana pendukung untuk meningkatkan kualitas pendidikan, justru kerap menghadirkan persoalan baru. Tetapi di sisi lain bisa menjadi hambatan meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Kecenderungan saat ini pelajar lebih fokus pada gawai dibandingkan pada kegiatan pengembangan diri.
Salah satu indikasinya adalah minimnya minat pelajar dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. misalnya mengikuti kegiatan sastra, contohnya baca puisi. Kegiatan seperti membaca puisi, yang dulu menjadi salah satu ruang berekspresi sekaligus meningkatkan literasi, kini mulai ditinggalkan.
Padahal, kegiatan baca puisi tidak hanya melatih keberanian tampil di depan umum, tetapi juga membentuk kepekaan berbahasa, menumbuhkan daya imajinasi, dan memperkaya kemampuan literasi siswa.
Fenomena ini menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan. Diperlukan strategi baru agar pemanfaatan teknologi modern tidak justru menjauhkan siswa dari kegiatan pengembangan karakter dan literasi. Sebaliknya, teknologi harus diintegrasikan untuk mendorong minat siswa, termasuk dalam menghidupkan kembali kegiatan sastra di sekolah.
Pendidikan bukan hanya soal angka dalam rapor, tetapi juga bagaimana mencetak generasi yang berwawasan luas, berkarakter, serta memiliki kepekaan literasi di tengah derasnya arus digitalisasi.

Selasa, 03 Desember 2024

Dibalik Tumbangnya Petahana Jembrana

 Analisa Ngawur Politik Jembrana 


Pemilihan kepala daerah (Pilkada) selalu menjadi ajang kontestasi politik yang tidak hanya mengukur popularitas kandidat, tetapi juga kemampuan mereka membangun strategi kampanye yang efektif. Kekalahan pasangan petahana I Nengah Tamba - I Made Suardana (Tamba-Dana) dari pasangan I Made Kembang Hartawan - I Gede Ngurah Patriana Krisna (Bang Ipat) dalam Pilkada Jembrana mencerminkan dinamika politik lokal yang kompleks. Faktor-faktor strategis, personal, dan organisasi menjadi penentu utama dalam hasil kontestasi ini.


1. Kelemahan Strategi dan Organisasi Tamba-Dana


Sebagai petahana, Tamba-Dana seharusnya memiliki keunggulan dari segi pengenalan publik dan pengalaman pemerintahan. Namun, keunggulan ini tidak cukup untuk menghadapi tantangan dari lawan politik yang lebih terorganisir. Tim pemenangan Tamba-Dana dinilai tidak solid dan kurang matang dalam merancang serta mengeksekusi strategi kampanye.

Kampanye pasangan ini juga terlalu berfokus pada figur I Nengah Tamba, sehingga kurang melibatkan aktor-aktor lokal lainnya yang dapat memperkuat daya tarik mereka di berbagai segmen masyarakat. Selain itu, pendekatan negatif campaign terhadap lawan, terutama tokoh-tokoh yang dihormati seperti I Gede Winasa dan I Made Kembang Hartawan, menjadi bumerang yang merugikan pasangan ini. Pemilih yang merasa dekat secara emosional dengan Winasa, mantan bupati Jembrana yang dinilai sukses, justru semakin mendukung Bang Ipat.

Kampanye Tamba-Dana menghadapi kelemahan fundamental, yaitu tim pemenangan yang tidak terorganisir dengan baik dan kurang matang. Fokus pada satu tokoh sentral, yaitu I Nengah Tamba, mempersempit daya jangkau pasangan ini. Strategi ini membuat pasangan Tamba-Dana gagal membangun jejaring dukungan yang lebih luas dan kohesif.

Kesalahan lain adalah seringnya blunder dalam strategi komunikasi, termasuk kampanye negatif terhadap lawan. Kampanye semacam ini cenderung kontraproduktif, terutama jika menyerang figur yang dihormati publik, seperti I Gede Winasa dan I Made Kembang Hartawan. Akibatnya, alih-alih melemahkan lawan, strategi ini justru memperkuat simpati pemilih kepada pasangan Bang Ipat.

Sekarang, Tim pemenangan Tamba - Dana jangan saling menyalahkan sesama tim, mencari kelemahan dan keunggulan lawan. Lebih baik introspeksi diri.


2. Keunggulan Strategis Bang Ipat


Pasangan Bang Ipat berhasil memanfaatkan kelemahan lawan dengan menawarkan kekuatan tim yang terorganisir dan sinergis. Kehadiran tiga tokoh sentral, yaitu I Gede Winasa, I Made Kembang Hartawan, dan I Gede Ngurah Patriana Krisna, menjadi faktor kunci keberhasilan.

I Gede Winasa, dengan reputasi sebagai bupati Jembrana selama dua periode, memiliki pengaruh besar dalam memengaruhi persepsi pemilih. Winasa dipandang sebagai simbol keberhasilan pembangunan daerah, yang membuatnya tetap dihormati meskipun tidak lagi menjabat. Sinergi antara Winasa, Kembang Hartawan, dan Patriana Krisna menciptakan tim yang mampu menarik simpati publik secara luas.

Pasangan Bang Ipat menunjukkan organisasi tim pemenangan yang jauh lebih solid. Kehadiran tiga tokoh sentral, yakni I Gede Winasa, I Made Kembang Hartawan, dan I Gede Ngurah Patriana Krisna, memberikan pengaruh besar terhadap keputusan pemilih. Kombinasi ini menciptakan sinergi yang efektif, baik dari sisi strategi maupun eksekusi di lapangan.

Dukungan partai politik juga menjadi faktor signifikan dalam kemenangan Bang Ipat. Dengan dukungan dari PDIP, PKB, dan PPP, pasangan ini memiliki akses ke basis pemilih yang kuat dan terstruktur. Mayoritas basis pemilih ideologis dan tradisional. Koalisi ini memungkinkan Bang Ipat menjangkau berbagai lapisan masyarakat dan membangun momentum politik yang solid.

Dukungan dari PDIP dan dua partai hijau (PKB dan PPP) memperkuat posisi Bang Ipat. Basis dukungan partai ini memungkinkan pasangan Bang Ipat menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk konstituen tradisional yang loyal pada partai-partai tersebut.


3. Pelajaran dari Kekalahan Tamba-Dana


Kekalahan Tamba-Dana memberikan beberapa pelajaran penting dalam kontestasi politik lokal. Pertama, status petahana tidak menjamin kemenangan tanpa didukung oleh strategi kampanye yang efektif dan tim yang solid. Kedua, kampanye negatif terhadap tokoh yang dihormati publik cenderung kontraproduktif dan dapat merusak citra kandidat.

Sebaliknya, Bang Ipat menunjukkan bahwa keberhasilan politik lokal memerlukan sinergi tokoh yang kuat, tim yang terorganisir, dan dukungan partai yang solid. Dengan memanfaatkan elemen-elemen ini, pasangan Bang Ipat mampu mengalahkan petahana meskipun menghadapi berbagai tantangan.


Kekalahan Tamba-Dana menegaskan beberapa pelajaran penting:

- Pentingnya Koalisi Tokoh Lokal: Pemilih di daerah sering kali lebih mempercayai tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak jelas.

- Profesionalisme Tim Pemenangan: Kampanye membutuhkan strategi yang terorganisir, matang, dan berbasis data, bukan sekadar mengandalkan popularitas petahana.

- Hindari Kampanye Negatif: Negatif campaign terhadap figur yang dihormati hanya akan menciptakan sentimen balik dari pemilih


Kesimpulan


Hasil Pilkada Jembrana mencerminkan pentingnya strategi politik yang terencana, tim yang solid, dan pengelolaan citra publik yang positif. Kekalahan Tamba-Dana bukan hanya kegagalan individual, tetapi juga kegagalan kolektif dalam memahami dinamika politik lokal. Sebaliknya, kemenangan Bang Ipat adalah bukti bahwa keberhasilan dalam kontestasi politik membutuhkan kombinasi antara kepemimpinan yang kuat, organisasi yang efektif, dan pendekatan yang mampu memenangkan hati masyarakat. Pilkada ini menjadi pelajaran penting bagi aktor politik di masa mendatang tentang bagaimana membangun kekuatan politik yang berkelanjutan.

Kekalahan Tamba-Dana adalah hasil dari kelemahan internal dan kegagalan memahami dinamika politik lokal. Sebaliknya, Bang Ipat memanfaatkan sinergi tokoh, soliditas tim, dan dukungan partai untuk menciptakan kampanye yang efektif. Pilkada Jembrana menunjukkan bahwa keberhasilan politik memerlukan kombinasi antara strategi terencana, figur kuat, dan pendekatan yang mampu menarik simpati pemilih secara emosional dan rasional.

Kekalahan pasangan Tamba-Dana memberikan pelajaran penting tentang pentingnya organisasi, strategi kampanye yang positif, dan kemampuan untuk membangun sinergi dengan berbagai pihak. Di sisi lain, kemenangan Bang Ipat menunjukkan bahwa politik lokal sangat dipengaruhi oleh kehadiran figur yang memiliki rekam jejak baik dan dukungan organisasi yang solid. Pilkada Jembrana kali ini menjadi contoh nyata bahwa kemenangan politik adalah hasil dari kombinasi antara kepercayaan publik dan kekuatan tim.

Kekalahan pasangan Tamba-Dana bukan hanya karena faktor individu, tetapi juga lemahnya strategi kampanye secara keseluruhan. Sebaliknya, Bang Ipat berhasil memanfaatkan kombinasi kekuatan tim, strategi yang terorganisir, dan dukungan politik yang luas. Kampanye yang mampu menarik simpati masyarakat melalui penguatan citra tokoh yang dihormati, seperti I Gede Winasa, terlepas dari kasus korupsi yang sudah dijalaninya, menjadi kunci keberhasilan pasangan Bang Ipat pada Pilkada Jembrana 2024 ini.


Sekian, Salam Damai




Analisa Ngawur Pengamat Abal-abal




Selasa, 26 November 2024

Ada Anggota Dewan Gelandangan di Senayan. Ada ya ?

 




Suatu ketika, ada seorang teman menelpon dan menyampaikan bahwa G meksipun sudah dilantik sebagai anggota dewan, tetapi tidak punya kursi. Jangankan ruang kerja, kursi saja tidak punya.

”Apa bener Q? Serius?” Tanyaku pada penelpon yang dipanggil Q, panggilan teman yang dikenal sebagai play boy bermodal es teh untuk merayu mahasiswi cantik saat kuliah di salah satu kampus di Yogya.

Saya langsung percaya penuh ceritanya. Karena pernah membaca berita tentangnya, anggota dewan berinisial G itu. Nyaris batal dilantik karena diberhentikan.

Lantas, setelah mendengar cerita itu. Saya membayangkan, G yang dulu saya kenal itu dengan bangga dan bahagia dilantik sebagai anggota dewan 1 Oktober lalu. 

Saya bayangkan pada saat pelantikan senyum bahagia saat disapa diberikan ucapan selamat oleh keluarga, kerabat dan sahabat. Tapi sebenarnya mungkin hatinya getir.

Tapi sebenarnya kebanggaan dan kebahagiaan itu sebenarnya semu. Pelipur lara.

Ternyata drama sebelum hinga pelantikan itu, hanya awal dari getirnya seorang anggota dewan yang terhormat. Wakil rakyat yang dipilih rakyat langsung. Karena selanjutnya, G justru mungkin tersiksa dengan status sebagai anggota dewan yang terhormat. Bukan lagi sebuah kebanggaan, tetapi membuat hatinya teriris.



Karena kabarnya, kata teman yang sering bolak balik ke senayan ini, menyampaikan bahwa G memang dilantik sebagai anggota dewan, anggota fraksi partai bumi hijau tetapi kabarnya tidak diakui, tidak punya kursi di fraksi (semoga kabar ini tidak benar). Bahkan tidak menjadi anggota komisi apapun di Senayan, sehingga tidak punya kursi di komisi. 

Lalu, saya mencoba melihat di website dewan. Mamang nama G ada, tetapi di kolom komisi hanya ditulis (-) tanda hubung atau tanda minus. Entahlah. 

Padahal komisi di dewan, merupakan alat kelengkapan dewan yang penting. Tugas komisi dalam pembentukan undang-undang adalah mengadakan persiapan, penyusunan, pembahasan, dan penyempurnaan rancangan undang-undang. (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Karena hanya menjadi angota dewan, tidak menjadi anggota komisi, bahkan menjadi anggota fraksi yang tidak diakui, saya membayangkan bahwa G menjadi anggota dewan seperti gelandangan. Sebutan anggota dewan yang terhormat hanya plakat yang justru tidak terhormat di mata dewan lain. Atau mungkin dimusuhi, karena dianggap musuh bersama meksipun oleh angkat dewan satu partai.

Tapi semoga di sekelilingnya bukanlah anggota dewan penjilat pada tuan besar yang punya kuasa atau anggota dewan  yanga hanya ingin menyelamatkan diri, mempertahankan posisi. Karena sudah terlanjur berada di zona nyaman, teman sebenarnya lawan.

Meskipun mungkin ada sesama anggota dewan yang karena kenal baik secara pribadi, karena pernah jadi senior-junior, atau seperjuangan saat mahasiswa. Entahlah...

Apa yang dialami G, penyebabnya sudah diketahui banyak orang. Bahkan menggegerkan republik ini. 

Pria yang akrab disapa G itu diberhentikan sebagai anggota partai sebelum pelantikan. Sehingga otomatis namanya dicoret, tidak bisa dilantik dan namanya diganti dengan calon lain yang memperoleh suara di bawah G. Akan tetapi, G melawan dan akhirnya menangkan gugatan.

Keputusan penyelenggara sebelumnya yang sudah menetapkan pengganti G untuk dilantik, digugurkan penyelanggara pengawas. Nama G muncul lagi dalam surat keputusan sebagai anggota dewan terpilih yang memperoleh suara puluhan ribu, sekitar 80 ribu di dari daerah pemilihan dua Kabupaten di Jawa Timur.

Tetapi akhirnya, setelah tari ulur itu, ternyata G tetap tidak diakui sebagai anggota dewan dari Fraksi hijau itu. Nasibnya juga sam dengan GI, persis sama. 

Entahlah, akrobat apa apa yang dipertontonkan elit politik itu. Meksipun saya mengenal G, bukan bermaksud membela. Tapi berilah kepastian. Karena pemilihnya, rakyat yang diwakilinya tentu membutuhkan kepastian.


Semoga cerita teman tentang G itu tidak benar. Dan tulisan ini hanya hayalan saya saja. 

Salam damai sahabat.



Selasa, 17 September 2024

Tarik Ukur Rekomendasi Kandidat Kepala Daerah

 




Penulis : MB 


Jelang pendaftaran bakal calon kepala daerah yang sudah dijadwalkan KPU serentak 27-29 Agustus. Partai politik secara bertahap sudah mengeluarkan rekomendasi kepada bakal calon kepala daerah yang akan berkompetisi dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 27 November mendatang.

Apakah rekomendasi dari partai politik untuk pasangan calon gubernur atau pasangan calon bupati itu gratis ? Tidak asa kompensasi kepada partai politik? Pertanyaan ini yang sering dilontarkan masyarakat awam selama bertahun tahun setiap jelang Pilkada.

Meksipun partai politik ramai-ramai mengatakan bahwa tidak ada mahar politik, tetapi kecurigaan adanya mahar politik tidak bisa dibendung: Pasti ada kompensasi ekonomi atau politik dari kandidat kepada partai politik. Bukan menuduh, tetapi itulah pandangan dan kecurigaan yang muncul.

Keluarnya rekomendasi dari partai politik secara bertahap, menguatkan kecurigaan itu. Masih ada tarik ukur oleh partai politik terhadap kandidat. Tarik ukur kemampuan kandidat dalam mendapat rekomendasi, mulai dari ukuran kedekatan dengan partai politik secara ideologi dan kedekatan personal kandidat dengan pengurus partai politik. 

Atau mungkin tarik ukur kemampuan finansial kandidat. Bakal calon yang tidak mempunyai kemampuan finansial yang kuat, kemungkinan tidak mendapat rekomendasi. Dugaan setoran kandidat kepada partai politik untuk mendapat rekomendasi, menjadi hal yang tabu dan sulit dibuktikan. 

Tarik ukur kemampuan finansial ini bukan hanya untuk mendapat rekomendasi, tetapi hingga pemilihan. Karena pemilihan butuh modal, paling tidak untuk biaya kampanye dan saksi pada saat pemilihan.

 Apakah biaya itu bisa dibebankan kepada partai politik atau gabungan partai politik yang mengusung? Bisa saja hal itu terjadi, tetapi faktanya dari pemilihan-pemilihan berasal dari kandidat. Bisa dilihat dari setoran dana kampanye setiap usai pemilihan.

Dengan sistem pilkada saat ini, pertimbangan ideologi partai politik maupun program visi dan misi kandidat bukan prioritas utama. Kepentingan politik tidak hanya berorientasi kepada politik an sich. Kepada sistem politik keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara yang sejahtera.

Seperti yang ditulis Guru Besar Universitas Padjadjaran Bandung Prof. Dr. H. Asep Kartiwa, Drs., S.H., M.S, dalam pengantar buku sistem politik I Indonesia, karya Dr. Sahya Anggara, M.Si. (2013). Disebut dalam bahwa sistem politik merupakan urat nadi dalam berbangsa. Partai politik menjadi saluran darah bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara yang sehat dan sejahtera.

Kemudian fungsi sistem politik yang sehat dan sejahtera tertumpu pada harapan yang besar dari bangsa dan negara untuk mengartikulasi “aliran darah” bagi tumbuh dan berkembangnya berbagai aspek kehidupan negara. Mulai dari aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, dan hankam.

Tumbuh dan berkembangnya aspek-aspek tersebut ditujukan untuk memberi nilai tambah bagi masukan sistem politik dalam mengisi dan membangun infrastruktur dan suprastruktur politik yang merupakan prasyarat dan syarat bagi terwujudnya tujuan nasional negara Indonesia.

Dengan sistem politik yang sarat dengan kepentingan yang jauh dari sistem politik an sich, justru akan menjauhkan diri dari cita -cita partai politik yang semua bertujuan untuk mensejahterakan rakyat. Sebaliknya, hanya untuk kepentingan politik golongan dan oknum tertentu.


Mahar Politik, Suburkan Korupsi 


Mahar politik sama dengan membangun dan mempertahankan budaya korupsi. Mahar politik merujuk pada biaya yang harus dibayar oleh calon legislatif untuk memperoleh dukungan dari partai politik atau kelompok tertentu dalam pemilihan. 

Bahwa mahar politik sering kali menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi integritas dan kualitas politik di Indonesia. Kandidat yang membayar mahar politik cenderung merasa berutang budi kepada partai atau kelompok pendukungnya, yang pada gilirannya dapat menyebabkan perilaku koruptif atau pengambilan keputusan yang tidak berpihak pada kepentingan publik. 

Karena setiap kandidat yang mengeluarkan dana untuk pemilihan, bukan tidak mungkin ketika menang akan memikirkan cara agar kembali modal awal untuk maju. 

Fenomena ini apabila terjadi akan mempengaruhi transparansi dan akuntabilitas dalam proses politik, di mana dana besar yang digunakan untuk mahar politik bisa menjadi sumber praktik korupsi yang lebih luas dan merusak sistem demokrasi.



* Pemerhati politik 

tinggal di Jembrana, Bali.


Mengakhiri Siklus Buruk Pilkada dan Politik Uang

 Penulis : MB



 









Politik uang hampir terjadi setiap pemilihan umum (pemilu), tetapi sulit dibuktikan. Bahkan, ada yang menyebut seperti buang angin, hanya ada bau tanpa terlihat wujudnya. Isu politik uang semakin kuat pada saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) sering kali diwarnai praktik politik uang yang merusak esensi demokrasi.

Kandidat yang mengandalkan kekuatan uang untuk meraih suara cenderung lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada kepentingan rakyat. Karena sejatinya Pilkada yang sejatinya menjadi ajang demokrasi sejati, kerap kali berubah menjadi medan perebutan kekuasaan instan bagi politisi berduit. Dengan politik uang, para kandidat berusaha mempengaruhi pemilih, sebuah strategi yang dianggap lebih efektif untuk meraih kemenangan. Praktik ini merusak integritas Pilkada.

Politik uang dalam Pilkada memperlihatkan bagaimana uang menjadi faktor penentu, menggeser ideologi dan program kerja. Pada akhirnya, kandidat yang terpilih dengan cara ini sering kali terjebak dalam lingkaran korupsi, karena harus mengembalikan “investasi” yang dikeluarkan selama kampanye. Hal ini menciptakan siklus kekuasaan yang korup, di mana kepentingan rakyat dikesampingkan demi kepentingan pribadi dan kelompok.

Ketika uang menjadi alat untuk memenangkan kekuasaan, maka moralitas dan integritas terabaikan. Rakyat perlu disadarkan akan bahaya ini; suara yang diperjualbelikan hanya akan memperpanjang siklus kekuasaan yang korup.

Reformasi politik dan penegakan hukum yang tegas adalah kunci untuk memutus rantai buruk ini dan mewujudkan Pilkada yang bersih dan adil. Reformasi politik yang komprehensif dan penegakan hukum yang konsisten sangat penting untuk menghentikan praktik-praktik yang merusak dalam Pilkada, seperti politik uang dan korupsi.

Dengan memperbaiki sistem politik dan menerapkan hukum tanpa pandang bulu, dapat menciptakan proses pemilihan yang transparan dan adil, di mana kandidat terpilih benar-benar mewakili kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Dengan cara ini, Pilkada bisa berjalan sesuai dengan prinsip demokrasi yang sebenarnya.

Pilkada sejatinya merupakan salah satu pilar utama demokrasi di Indonesia. Sebagai sarana untuk memilih pemimpin di tingkat lokal, Pilkada memainkan peran penting dalam memastikan bahwa suara rakyat benar-benar didengar dan diwakili.

Namun, meskipun Pilkada dirancang untuk mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi, realitas di lapangan sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Politik uang, manipulasi kekuasaan, dan kepentingan kelompok tertentu sering kali mencemari proses ini, menjauhkan Pilkada dari esensinya sebagai mekanisme demokrasi yang murni.

Agar Pilkada dapat berjalan sesuai dengan prinsip demokrasi yang sebenarnya, diperlukan beberapa langkah krusial yang harus diambil oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, partai politik, dan pemilih itu sendiri. Pertama dan yang paling mendasar adalah menegakkan integritas proses pemilihan. Ini mencakup segala hal mulai dari pencalonan kandidat hingga perhitungan suara akhir.

Setiap tahap harus dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas penuh. Dalam hal ini, peran Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara sangat vital. KPU harus memastikan bahwa aturan main ditegakkan tanpa kompromi, dan segala bentuk kecurangan ditindak secara tegas.

Selain itu, partai politik sebagai pengusung kandidat juga memegang tanggung jawab besar. Mereka harus memilih kandidat berdasarkan kemampuan dan integritas, bukan semata-mata karena popularitas atau kemampuan finansialnya. Dalam banyak kasus, kandidat yang diusung oleh partai adalah mereka yang memiliki modal besar untuk kampanye, sering kali dengan harapan dapat "membeli" suara rakyat. Fenomena ini tidak hanya merusak demokrasi, tetapi juga menciptakan pemimpin yang tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab.

Menyoroti pentingnya pendidikan politik bagi masyarakat. Demokrasi yang sejati hanya bisa terwujud jika rakyat sebagai pemilih memiliki kesadaran politik yang tinggi. Mereka harus memahami pentingnya memilih berdasarkan visi dan misi yang ditawarkan kandidat, bukan karena janji-janji material atau iming-iming sesaat. Pendidikan politik bisa dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari kampanye yang edukatif, diskusi publik, hingga program-program literasi politik yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat.

Tidak kalah penting reformasi dalam penegakan hukum. Sistem hukum yang kuat dan tidak pandang bulu, kunci untuk memastikan pelanggaran dalam Pilkada, seperti politik uang atau manipulasi hasil pemilihan, dapat dihukum dengan adil. 

Hukum harus berdiri di atas semua pihak, tanpa pengaruh dari kekuasaan politik atau tekanan kelompok tertentu. Ini berarti aparat penegak hukum, kepolisian dan kejaksaan, harus bekerja secara independen dan profesional.

Pada akhirnya, Pilkada yang sesuai dengan prinsip demokrasi yang sebenarnya hanya bisa tercapai jika semua pihak berkomitmen untuk menjaga kejujuran, keadilan, dan transparansi dalam prosesnya. Tantangan besar, terutama dalam konteks politik Indonesia yang sering kali masih dipengaruhi oleh praktik-praktik koruptif dan oligarki. 

Namun, dengan komitmen bersama untuk memperbaiki sistem dan memperkuat institusi demokrasi, bisa berharap bahwa Pilkada di masa depan akan semakin mencerminkan aspirasi rakyat dan menghasilkan pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan positif bagi daerahnya.

Pilkada yang demokratis bukan hanya tentang prosedur memilih pemimpin, tetapi juga tentang bagaimana proses tersebut dapat memperkuat partisipasi politik rakyat, membangun kepercayaan pada institusi demokrasi, dan pada akhirnya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Oleh karena itu, menjaga integritas Pilkada adalah tanggung jawab bersama, sebagai bagian dari upaya besar untuk mewujudkan demokrasi yang sesungguhnya di Indonesia

Reformasi politik yang menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak untuk memutus rantai korupsi dalam Pilkada. Diperlukan upaya kolektif untuk mendorong Pilkada yang bersih dan adil, di mana integritas, visi, dan kemampuan kandidat menjadi dasar utama pemilihan, bukan sekadar seberapa besar modal yang mereka miliki. Dengan begitu, Pilkada bisa menjadi momentum untuk perubahan nyata, bukan sekadar ajang perebutan kekuasaan.




*Muhammad Basir, pemerhati politik tinggal di Jembrana, Bali.


Rabu, 02 Mei 2012

Pojok Iseng



Pojok Iseng
Belum Lama iNi
Terkadang orang mengira kita gila, terkadang orang mengira apa saja seenak mulut mereka. Tapi tetaplah berjalan sesuai dengan kata hatimu. Bukankah dunia ini tidak dibatasi oleh mulut-mulut mereka yang asal bicara ? hahahahaha...
Selam sejahtera buat sahabat-sahabat BLOG. Saya kembali lagi di dunia kecil ini untuk mencari batas yang sesungguhnya. Karena kata Darsi “Dunia kecil ini tak terbatas” tapi saya tak percaya.
Eh, siapa Darsi? Mau tau saja.

Kamis, 26 April 2012

Menyoal Kekerasan dalam Rumah Tangga



Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukanlah fenomena baru dalam keluarga, sejak awal penciptaan manusia hal semacam ini sudah terjadi. Tetapi KDRT bukanlah sebuah takdir atau kodrat, hukum alam atau fenomena alamiah yang dianggap memang seharusnya dan biasa terjadi dalam rumah tangga dan harus diterima dengan lapangdada. Terlalu naïf jika masih ada yang berfikir seperti itu. KDRT disebabkan oleh ulah manusia sendiri oleh egoisme personal, konflik antarperonal dalam keluarga, dan tatanan nilai-nilai adat atau kebiasaan.
Dalam temuan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak (PPTP2A), Kota Denpasar cukup mengejutkan, selama periode 2011 ditemukan sebanyak 239 kasus (Bali Express, 24/4). Temuan P2A, Kota Denpasar ini, berbanding terbalik dengan  wacana selama yang menyebutkan masalah ekonomi adalah faktor utama terjadinya KDRT dan meningkatkanya perceraian atau broken home. Karena pada kenyataannya ekonomi adalah salah satu faktor terpenting dalam keluarga, jika kebutuhan hidup sehari-hari sudah terpenuhi sangat jarang sekali dalam keluarga terjadi konflik yang disebabkan oleh kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan.

Sabtu, 14 April 2012

Mencegah Konflik Sosial

Munculnya berbagai tindak kerusuhan dan tindakan anarkis akhir-akhir ini justru telah  disemangati oleh api reformasi yang diterjemahkan secara ”membabi buta” yang terwujud sebagai euforia demokrasi  Jika dirinci beberapa faktor  penyebab timbulnya konflik antaretnik dan antaragama di Indonesia itu antara lain: ketegasan identitas kelompok, derajat kohesi dan mobilisasi kelompok, kontrol  represif oleh kelompok-kelompok dominan.
Di berbagai daerah timbul konflik, bahkan kerap konflik tersebut bermuara pada persinggungan agama. Persoalan ini semakin krusial karena terdapat serangkaian kondisi sosial yang menyuburkan konflik, sehingga kebersamaan dalam membangun negeri ini menghadapi tantangan. Selain itu, kebanggaan terhadap kerukunan yang dirasakan selama bertahun-tahun mengalami degradasi, bahkan menimbulkan kecemasan terjadinya disintegrasi.

Senin, 26 Maret 2012

Kritik Sastra Katrin Bandel



Tahun-tahun terakhir ini, dunia sastra Indonesia geger dengan datangnya dua isu “perempuan” dan seks. Isu perempuan dan seks dalam arti pengarang perempuan yang semakain menjamur, maupun isu tentang seks sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren sekarang ini. Meskipun tergolong muda tidak sedikit dari mereka (pengarang perempuan) mendapatkan penghargaan sastra dari pengamat dan kritikus sastra dan Klaim-klaim sebagai pendobrak tabu dan lain sebagainya.
Katrin Bandel dalam buku kumpulan esei-eseinya yang berjudul Sastra, Perempuan, Seks mencoba merespon klaim-klaim yang selama ini yang cenderung memuja-muja pengarang perempuan, sebagai penulis hebat, baru atau sebagai “sastrawangi” dan lain sebagainya. Benarkah karya mereka demikian hebat sehingga pantas dihebohkan seperti itu?

Mengungkap Potret Buram Sejarah PKI

Tulisan ini sudah pernah di terbitkan Kotan Harian Bernas Jogja 


Meletusnya tragedi berdarah paling mengerikan dalam lembaran sejarah Indonesia yang mengakibatkan hilangnya jutaan nyawa samapai sekarang masih menjadi kontroversi yangt semakin melebar. Tragedi yang sering disebut Pemeberontakan Gerakan 30 September 1965 (G-30-S) masih belum jelas siapa dalang dibalik tragedi itu.
Setiap kali membaca sejarah G-30-S, semua memusatkan pada Partai Komunis Indonesia (PKI), yang menjadi terdakwa sebagai dalangnya. Mungkin kita akan skeptis, merasa heran dan terkejut, ketiaka ada sebuah analisis gerak sejarah, serta sisipan analisis dan data yang tergolong baru dan langka, bahkan tidak kita temukan dalam discourse dan wacana “resmi ” yang kita nikmati selama ini, yang menagtakan bahwa dalang dalam tragedi berdarah sebenarnya bukan PKI.

Sabtu, 19 Juni 2010

GAYA HIDUP PROFETIK



Muhammad Zuhri
Guru Sufi Revolusioner
 
MUQODDIMAH

Nun jauh di ufuk lalu planet kita yang mungil ini sering dikunjungi oleh hamba-hamba robbani yang telah mengukir sejarah ummat manusia dengan ornamen surgawi. Mereka adalah para penempuh jalan kebenaran yang tiada tanding, para pencari yang berhasil menemukan dirinya yang bukan anak struktur, dan para piawai yang telah menyelamatkan bumi dari kefanaannya.

Mereka datang dari puncak gunung, dari tepi ngarai, pinggir samodera dan dari padang pasir yang tandus bukan untuk berburu dan mengumpulkan kekayaan duniawi, melainkan hendak mengajak ummat manusia untuk menunda datangnya hari kiamat dan sekaligus mengurungkan kematian.

Kesombongan dalam Beragama


Hidup beragama tidak lantas hidup akan lebih tenang dan hidup akan semakin bijak dan lurus. Sebagaimana tujuan diturunkan agama itu sendiri, yaitu sebagai penunjuk pada jalan yang lurus.  Hidup beragama mempunyai tantanganya sendiri. Belakangan ini justru agama dituding sebagai pemantik timbulnya permasalahan. Sebuah contoh Jemaah Ahmdiyah yang diangkat dalam penulisan skripsi ini.
Jemaah Ahmadiyah beberapa tahun terahir ini mengalami mimpi buruk kemanusiaan. Dibeberapa daerah yang menjadi basis Ahmadi selalu hidup dalam terror, kantor mereka dalam ancaman penggerebekan dan penghancyuran, rumah-rumah pengikut jemaah Ahmadiayah dibakar oleh kelompok yang bersebrangan dengan ahmadiyah, kelompok yang menyerag Ahmadiyah mengatas namakan pembersihan aliran sesat dalam Islam.
Jemaah Ahmadiyah telah dianggap sebagai aliran sesat dan keluar dari Islam. Dipaksa untuk tidak mengakui sebagai bagian dari Islam. Kelompok yang mengatasnamakan Islam yang sangat benci dengan Ahmadiyah dan Instrumen pemerintah pun ikut dalam upaya diskriminasi terhadap Jemaah Ahmadiyah. Bahkan sebagian besar dri mereka memfasilitasi kelompok yang bersebrangan dan tidak suka untuk menghncurkan Jemaah Ahmadiyah
Sebenarnya apa arti kesesatan dalam hidup beragama. Apa arti perbedaan pandangan dan keyakinan dalam hidup yang multukultural? Sebuah kata bijak seorang sufi besar, Abu Yazid Bustami mengatakan, Barangsiapa dirinya meresa lebih baik dari Fir’aun maka dia sunggh sombong. Disinalah arti pentingnya hidup rendah hati tidak merasa lebih baik dari orang lain. Menerima perbedaan pandangan dan keyakinan hidup  orang lain dalam hidup yang multikultural.

Sabtu, 30 Januari 2010

Menjamurnya Kriminalitas Akademik

 
JAWA POS Kamis, 29-Maret-2006 
Skripsi, tesis, atau disertasi, bagi sejumlah mahasiswa tingkat akhir, dibuat
untuk memenuhi syarat kelulusan dan menyandang gelar sarjana. Mereka juga
berkesempatan membuat mahakarya. Apalagi, karya itu kemudian diterbitkan
sebagai buku.

Tetapi, hal itu menjadi momok bagi sebagian mahasiswa yang enggan atau tidak
mampu membuatnya. Tak heran, ada mahasiswa yang tidak lulus hanya karena
skripsinya belum selesai. Karena itu, tidak jarang mahasiswa yang menempuh
jalur cepat, yakni membeli.

Praktik memperjualbelikan skripsi, tesis, atau disertasi bukan hal baru lagi.
Kedengarannya praktik itu memang janggal. Tetapi, hal tersebut terus
berlangsung hingga sekarang. Dengan menyiapkan uang sesuai kesepakatan,
mahasiswa akan menerima skripsi atau tesis secara utuh. Ironisnya, pihak
akademik kurang bisa mengendus apakah skripsi mahasiswa benar-benar karya
autentik, plagiat, atau dibuatkan orang lain.

Di sinilah berlaku bahwa pendidikan dan gelar diperoleh mereka yang punya uang.
Lantas, tanpa rasa malu, orang membeli gelar ke mana-mana. Apalagi, di era
internet, banyak biro yang menawarkan jasa pembuatan skripsi, tesis, ijazah,
diploma, penghargaan, dan sebagainya. Karena punya uang dan cari nama, mereka
bersedia diperas untuk prestise yang tidak terhormat.

Kejahatan Akademik

Memperjualbelikan atau jasa pembuatan skripsi, tesis, atau disertasi adalah
kejahatan akademik atau academic crime dan moral assasine. Sebab, dalam kultur
akademik, penjiplakan karya ilmiah atau dibuatkan orang lain merupakan
pelanggaran yang tak bisa ditoleransi.

Sanksi yang dijatuhkan pun cukup ekstrem, yakni dikeluarkan dari institusi
pendidikannya. Tetapi, di negeri ini, kultur akademik hanyalah retorika.
Kejahatan seperti itu memang sudah legal dalam dunia akademik kita.

Bisnis dan biro jasa yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar
(memperjualbelikan skripsi, dll) adalah kejahatan akademik. Mereka adalah
tukang tadah atau penjahat yang menolong para kriminal untuk melakukan
penipuan. Terlepas dari halal tidaknya profesi, bentuk bantuan seperti itu
sebenarnya tidak diperbolehkan dalam proses belajar. Mahasiswa harus bisa
menyusun karya tulis sendiri. Kalau sebagai rekan diskusi mahasiswa, tentu itu
tidak masalah.


Bahkan, kadang-kadang ada beberapa mafia kampus (oknum dosen) yang menyediakan
bahan skripsi sekaligus memberikan bimbingan dengan sedikit perubahan di sana
sini. Tapi, sang dosen juga sangat hati-hati. Sebab, dia hanya menjual jasa
kepada mahasiswa yang benar-benar dekat dengannya.

Bagaimanapun, skripsi, tesis, atau disertasi adalah kebanggaan karya akhir kita
saat kuliah. Jadi, secara moral, kita harus membuatnya sendiri. Mahasiswa
seharusnya menyadari bahwa menulis adalah bagian dari proses belajar. Memang
pada dasarnya belajar menulis itu tidaklah mudah. Apalagi, budaya menulis dan
membaca masyarakat Indonesia sangat rendah. Sebagian besar masyarakat juga
lebih menggemari budaya tutur dan mendengar daripada budaya menulis dan
membaca.

Terkait dengan budaya menulis dan membaca, Thomas Tyner membahasnya dalam buku
Writing Voyag. Menulis merupakan seni mendayung gagasan, pikiran, ataupun
pangalaman dan karya tulis ibarat lautan yang tak bertepi (Aep Kusnawan, 2004).

Jadi, karena tidak terbiasa membaca dan menulis, menjiplak tulisan sudah
menjadi hal yang sangat biasa. Biro-biro yang menjual jasa tertentu, khususnya
pembuatan skripsi, tesis, atau disertasi, sangat mudah kita temukan.

Intelektual Pragmatis

Dalam kacamata pendidikan, hal itu merupakan kegagalan terbesar dalam
penyelenggaraan pendidikan. Lembaga pendidikan hanya melahirkan kaum akdemisi
instant dan pragmatis. Pelaksanaan proses belajar-mengajar sekadar memenuhi
tuntutan formal akdemik lembaga pendidikan, misalnya demi mendapatkan ijazah
guna memasuki dunia kerja.

Dalam perspektif sosiologi pengetahuan, kaum intelektual masuk dalam
stratifikasi kelas sosial baru yang menguasai pengetahuan. Dengan pengetahuan,
mereka memiliki kapital budaya (cultural capital) yang bisa dikembangkan
menjadi kapital uang atau kapital politik.

Namun, maraknya memperjualbelikan skripsi, tesis, atau disertasi membuktikan
bahwa kaum intelektual dan akademisi justru tidak memiliki kapasitas
pengetahuan yang memadai untuk dikembangkan, bagaimana mereka memiliki kapital
budaya?

Dalam konteks budaya, pendidikan merupakan proses pembudayaan. Kalau budaya itu
buah keadaban manusia, tentunya peserta didik dituntut menjadi manusia yang
beradab. Jadi, pendidikan jangan malah menjadikan manusia semakin tidak beradab
dan tidak manusiawi.

Bagaimana derajat akan diangkat bila proses mencari ilmu ditempuh dengan jalan
curang, gampang, asal penampilan, dan seterusnya. Dan, kejahatan akademik itu,
bila kita urut, masih sangat panjang. Yang jelas, sejak SD hingga perguruan
tinggi, kreasi dan hati nurani anak didik kita harus dibentuk.

Minggu, 10 Januari 2010

Memburu Rumi: Kisah Tentang Pencarian Cinta Sejati





Georgiou selama hidupnya baru pertama kalinya merasakan getaran bait puisi yang mengguriskan kelembutan yang melampaui semua keresahannya, melampaui seluruh gelora dan hasratnya akan kehidupan. Atas dorongan kuat rasa keingin tahuaanya mengungkap makna hidup dan cinta yang tersirat di syair Rumi yang mampu menggetarkan hati dan jiwanya, Gorgiou meninggalkan ayah, sahabat dan kota Florence yang selama ini mengisi celah-celah kehampaan jiwanya.
Dia mengembara kepelosok negeri Yunani, Serbia samapi ke Konya Turki. Sebagai seorang pelukis yang mewarisi bakat ayahnya. Gorgiou lebih suka melukis orang-orang suci. Sebagai penganut Kristen Ortodoks dia melukis Yesus dan Perawan Suci Bunda Maria dan memperbaiki lukisan-lukisan orang suci yang sudang usang dimakan waktu. Dalam tas yang dibawanya ada lukisan Perawan Bunda Maria berwajah gelap yang selalu dibawanya, dan dia meyakini bahwa Bunda Maria akan melindungi perjalanannya.
Pengembaraan mencari makana dan cinta sejati Gorgiou sedikit terungkap sejak pertemuannya dengan para rahib di biara dan pertapa para pertapa, serta para darwis atau orang sufi Islam pencinta Tuhan. Perjalanannya semakin mendekati kota tujuannya yang sejati. Perjalanan suci manusia yang mengikuti bisikan hati yang paling suci, demi mengungkap tabir kehidupan.

Pengalamnya dalam perjalanan mulai bertemu dengan para rahib, para darwis, setelah sampai di Konya serta setelah pulang dari pengembaraannya, Gorgiou merasakan sesuatu yang berbeda dari kehidupan sebelm penegmbaraannya dia diberkati oleh kekuatan yang meta primata dan hanya orang tertentu saja yang bisa mengalaminya.
Tentang Rumi
Novel memikat ini akan membawa khalayak pembaca pada sejarah abad ketiga belas, semasa sang darwis Berputar hidup. Jallaluddin Rumi penyair Islam yang tulisan dan sayir-syairnya sangat universal mampu menembus tembok pemisah perbedaan agama, bangsa dan budaya sampai sekarang.
Rumi adalh pendiri aliran mistis Islam yang mayhur dengan sebutan tarekat Maulawiyah. Tarekat ini menari dengan diringi musik untuk mencapai puncak ekstase kecintaan atau disebut dengan sema. Bagi pengikut tarekat Maulawiyah, musik dan tarian merupakan jalan terbaik menuju penyatuan dengan Sang Kekasih. Musik dan tarian memberinya kenikmatantiada tara yang kadang tak akan pernah dirasakan lagi.
Dalam buku ini pembaca akan merasakan indahnya syair-syair Rumi yang sangat masyhur tersebut. Pembaca akan mendapatkan beberapa informasi tentang sejarah kehidupan para rahib di biara yang mengasingkan diri dari kehidupan duniawi berbeda dengan kehidupan para darwis, tidak pernah mengasingkan diri dari dunia nyata, justru jalan itu menuntun memasuki dunia jauh lebih kedalam lagi dan suci.
Buku yang akan menuntun pembaca pada sebuah perjalanan panjang mencari legenda pribadi dan cinta sejati yang terkubur dalam keangkuhan manusia sendiri, pemujaan pad dunia dan kerakusan manusia akan kehidupan duniawi, sehingga mengabaikan kehidupan rohani. yang mengaharpakan pertolongan adalah cangkir rahasia. Dengarkan erangan seekor anjing kepada tuannya. Rengkekan itu adalh penyambungnya. Ada anjing-anjing yang patuh dan tidak seorang pun tahu namanya. Maka jadikanlah hidupmu seperti salah satu anjing-anjing itu (Rumi).
Buku Memburu Rumi dalam edisi bahasa Indonesiaini,banyakekurangan dalam penerjemahannya. Memang, kesulitan terbesar dalam penerjemahan khususnya karya fiksi seperti puisi dan novel adalah pada pemilihan diksi-diksinya. Penerjemah akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan bahasa yang sangat rumit.
Dan tantangan terbesar bagi penerjemah adalah ketika imaji yang dapat ditangkap dari sebuah karya harus dilahirkan kembali dengan bahasa yang lain, dan bagaimana agar hasilnya berhasil kembali menjadi sebuah kreasi bahasa yang indah seperti karya aslinya

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8889

Kamis, 07 Januari 2010

MENYAMBUT CAHAYA



Seberapa kuat sebuah keyakinan akan mengendalikan hidupku? Mampukah aku melawan mereka yang sangat berlawanan dengan keyakinanku sendiri? Tuhan… Jangan tinggalkan aku sendirian di sudut pengembaraan mencari-Mu. Jangan abaikan hasratku untuk menemukan-Mu!
Denting sendok yang beradu dengan piring pada makan malam itu seperti lonceng kematianku. Semua mata yang melihatku seperti hendak menikam. Ruang makan terasa sunyi. Obrolan di meja makan tidak terdengar. Tak banyak yang bisa kulakukan selain bercumbu dengan sendok dan garpu sekedar menghilangkan kegaduhan hati.
Makan malam sepi seperti itu sudah hampir setiap malam menyelimuti keluarga besarku. Hanya karena sebulan sebelumnya aku berdebat dengan kakakku soal keyakinan yang sudah turun temurun di anut oleh keluargaku. Kakak dan Ibu menggangap pendapatku bersebrangan dengan keyakinan keluarga selama ini. Hanya ayahlah yang memberikan kebebasan berpendapat tentang apa saja yang menjadi kegelisahanku.
“Hana, beberapa minggu ini saya lihat kamu lebih banyak diam. Ada apa?” Ayah memecah kebisuan di meja makan saat makam malam usai dan semuanya masih enggan meninggalkan meja makan.
“Tidak apa apa-apa, Yah” jawabku datar mencoba menutupi semua kegelisahanku.
“kau anakku, bicaralah pada ayah. Apa yang membuatmu gelisah?” ayah mendesak.
Ibu dan kakak meninggalkan aku dan ayah berdua saja di meja makan tanpa sedikit pun bersuara. Saat mereka sudah tidak terlihat. Aku mulai bicara pada ayah dengan keraguan yang semakin menyayat.
“ehmmm….Aku hanya mulai ragu dengan keyakinanku sendiri. Keyakinan tentang Tuhan yang selama ini mengisi kekosongan hatiku. Yang ternyata justru semakin kosong. Aku merasa bukan Dia, Tuhan yang seharusnya kusembah ”. Aku tahu jawabanku itu sangat tidak pantas di ucapkan di depan ayah.
“Apa maksudmu?” Suara ayah tinggi terperangah mendengar jawabanku. Seperti belum percaya dengan yang barus saja dia dengar. Aku diam saja. Melihat ayah seperti sedang di puncak kemarahan.
“Sebaiknya kita bicarakan ini di luar” suara ayah mulai terdengar pelan.
Ayah berdiri dari kursinya dan melangkah keluar rumah. Aku berdiri dan mengukuti di belakangnya menuju beranda rumah. Pembicaraan malam itu berlangsung hangat. Ayah tidak memaksakan keyakinannya. Aku diberi kebebasan untuk menetukan jalanku sendiri.
Suatu hari ayah pergi ke luar kota untuk waktu yang lama. Sejak kepergian ayah aku semakin terasing dari rumahku sendiri. Ibu dan kakak sudah tidak mau berbicara lagi denganku. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa berdamai dengan suasana rumah yang terasa sempit semakin ini. Aku sudah tidak tahan dengan keadaan ini. Keluargaku sepertinya sudah tidak menginginkan keberadaanku.
Di suatu pagi keiinginanku untuk segera meninggalkan rumah semakin kuat. Tanpa berpikir panjang. Aku pun meninggalkan rumah waktu itu juga. Meninggalkan secarik kertas  dalam buku di meja kerja ayah. Menyembunyikannya dari Ibu dan kakak agar hanya ayah yang membaca surat itu.

Dear Ayah,
Ayah, Hana pergi mencari keyakinanku. Tidak ada yang perlu Ayah khawatirkan. Aku akan mencari dan menentukan jalan hidupku sendiri. Sampaikan salamku pada ibu dan saudara-saudaraku karena aku tidak berdaya dengan tatapan mereka. Aku akan pulang saat aku menemukan yang kucari.
Salam hormatku,
Hana

Sebelum meninggalkan rumah di pagi yang masih gelap. Aku ke kamar ibu, melihatnya masih tertidur pulas. Aku merasa dia tahu kehadiranku dan aku merasakan sungguh kasihnya begitu berat melepasku. Setelah keluar dari rumah Aku berdiri di halaman rumah. setiap pojoknya serasa menahanku. Seperti tidak rela kutinggalkan. Ayah seperti memanggil-manggil dari pintu rumah dan Ibu menagisi kepergianku.
 Sebuah kereta pagi mengantarku pada tujuan pertamaku. Menemui seorang sahabat di kota lama. Dia berbeda keyakinan denganku, tapi dia sangat baik dan santun. Dia  mengenal banyak orang bijak yang bisa dijadikan pembimbing dalam pencariaku.
Sahabatku mengantarkan aku pada seorang bijak yang di kenal sebagai penafsir kebahagiaan. Seorang bijak yang selalu menebar cinta dan menghikmati hidup.  Seoarang yang santun dan ikhlas berbagi dengan siapa saja. Tanpa membedakan agama, keyakinan, dan latar belakang apapun dia terima di rumahnya. Seoarang bijak yang selalu memberi petunjuk  mengobati segala macam penyakit jiwa. Ketulusan dan keikhlasan hatinya, serta tutur bicaranya yang santun menyambutku saat pertama kali menemuinya.
Setelah beberapa kali menemui penafsir kebahagiaan itu. Berbagi denganya tentang segala hal yang kugelisahkan selama ini. Aku semakin memantapkan diri dengan jalan yang akan aku pilih. Semua yang di katakan orang bijak itu sangat masuk akal dan benar. Berbeda sekali dengan yang selama ini menjadi keyakinan keluargaku.
Di depan orang bijak yang telah menjadi guruku itu. Aku mengutarakan niat tulusku untuk meyakini kebenaran. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat. Meyakini ke-esaan Tuhan dan nabi Muhammad rasul-Nya. Sang guru dan sahabatku mendengarnya dengan haru sampai meneteskan air mata.
Guru yang membimbingku ke jalan kebahagian yang kini telah kujalani berpesan agar aku terus belajar ilmu agama. Dia menganjurkan untuk belajar pesantren Kiai Zaini, namanya pondok pesantren putra dan putri al-Ikhlas. Di sebuah desa yang tak jauh dari rumahnya. 
Saat pertama datang ke pesantren, aku masih belum menggunakan jilbab. Seperti sahabat yang menemaniku dan wanita muslimah lain. Aku datang ke pesantren bersama sahabatku yang dengan ikhlas merelakan waktunya bersamaku selama ini.
Pengasuh pesantren itu sudah cukup tua. Usianya sudah sekitar tujuh puluh tahun. Tetapi wajahnya masih segar. Tak tampak kulit tua yang bergaris di wajahnya. Tubuhnya pus masih sangat tegar. Tutur bahasanya santun.
Setelah menceritakan tentang perjalananku sampai pertemuan dengan guru yang membimbingku, hingga kutemukan kebahagiaanku sekarang. Aku mengutarakan keinginanku untuk belajar ilmu agama di pesantrennya. Kiai Zaini sangat senang ketika aku memutuskan untuk belajar agama di pesantrennya.
Tidak seperti santri-santri putri lainnya yang tinggal di sebuah asrama yang yang yang berukuran lebih kecil dari kamarku yang dulu, aku disuruh untuk tinggal di rumah kiai Zaini. Sebuah kamar yang cukup besar. Sebuah kamar yang terletak di pojok kiri ruangan rumah kiai Zaini. Ada sebuah foto perempuan yang seumuranku tergantung di dinding kamar. Beberapa kitab yang berjejer di rak. Ada perasaan tidak enak yang bergelayut dihatiku. Karena aku diperlakukan secara istimewa oleh keluarga kiai Zaini. Terutama Nyai Romlah, istri kiai Zaini. Ia begitu menyanyangiku. Seolah-olah aku ini bagian dari keluarganya.
“Semenjak aku melihatmu pertama kali. Aku langsung teringat dengan anak perempuanku, Zahrah. Entah kenapa, aku seperti melihat sosok Zahrah pada dirimu” Kata nyai Romlah. Kulihat raut wajahnya yang selalu ceria itu berubah menjadi sedih. Ada kesedihan mendalam yang kutangkap pada wajahnya. Kesedihan yang tak ingin ia bagi pada siapapun.
“Memangnya apa yang terjai dengan Zahrah, Nyai?” Kataku membeeranikan diri.
Lama Nyai Romlah terdiam. Sebelum kemudian ia bercerita kepadaku tentang musibah yang menimpa Zahrah. Sebuah kecelakaan mobil telah merenggut anak perempuan kesayangannya itu setahun yang lalu. Barulah kemudian aku tahu kalau foto yang tergantung didinding itu adalah foto Zahrah. Dan kamar yang kutempati itu adalah kamar Zahrah.
Aku merasa bahagia. Karena aku menemukan sebuah keluarga yang sangat menyanyangiku. Tapi terkadang ada kesepian yang begitu dalam. Rasa rindu yang tak tertahankan. Seringkali aku teringat dengan ayah, ibu, dan kakakku. Bagaimana kabarnya mereka sekarang? Apakah mereka baik-baik saja? Ingin rasanya, aku pulang untuk sementara waktu. Menjenguk ayah, ibu, dan kakakku untuk memastikan kalau mereka baik-baik saja. Dan aku ingin berbagi kebahagiaan dengan ayah. Kareana aku menemukan sebuah keluarga yang sangat baik terhadapku. Sehingga ayah tak perlu menghawatirkan keadaanku. Tapi, aku tak mungkin pulang sebelum pencarianku selesai. Aku harus banyak belajar agama yang telah kuyakini.
Waktu terasa cepat berganti. Banyak hal yang berganti dan berubah. Tapi perhatian kiai Zaini dan Romlah tak pernah berubah kepadaku. Seringkali aku juga diajak oleh Nyai Romlah untuk menemani Nyai Romlah berceramah agama di pesantren-pesantran. Kepada orang-orang yang menanyakan tentang diriku. Nyai Romlah akan mengatakan kalau aku adalah anaknya.
Semakin lama keyakinanku tentang Islam semakin kokoh. Nyai Romlah dengan penuh perhatian terus mengajariku tentang ajaran Islam. Sesekali waktu, sehabis sholat shubuh. Nyai Romlah akan bercerita kepadaku tentang keutamaan-keutamaan nabi Muhammad. Kesetiaan-kesetiaan para sahabat nabi untuk membela agama Islam.
***

Suatu pagi, ketika Aku sedang duduk di Beranda. Membaca kitab Nashahiul Ibad: Nasehat Bagi Para Hamba-Hamba Allah, tahu-tahu Ramdhan duduk tak jauh di depanku.
“Kamu rajin sekali Hana” Kata Ramdhan mengagetkanku.
Aku tergeragap. Hampir saja kitab Nashahiul Ibad itu jatuh dari tanganku. Entah kenapa setiapkali aku berada di dekat Ramdhan hatiku berdetak kencang. Detak yang tak sepenuhnya kupahami. Apalagi ketika Ramdhan menatapku dengan tatapan yang begitu tajam. Tatapan yang seakan-seakan ingin menyelam ke dalam jiwaku. Di hadapannya aku seperti seekor rusa dihadapan seekor singa. Apakah aku mencintanyainya?
Barangkali denyar-denyar cinta itu mulai tumbuh di hatiku. Perempuan mana yang tak akan jatuh cinta dengan Ramdhan, putra kiai Zaini yang terkenal sangat alim itu. Putra kiai satu-satunya yang akan menggantikan kiai Zaini kelak. Disamping pengetahuan agamanya yang sangat luas, Ramdhan memiliki wajah yang sangat tampan. Perawakannya yang tinggi semampai. Wajahnya yang putih bersih, mata jernih dan tajam. Perempuan mana yang tak akan terpesona dengannya. Semua para santri putri selalu membicarakan putra kiai Zaini itu diam-diam. Barangkali aku juga seringkali memikirkannya.
“Melamun saja, Han? Apa yang kau pikirkan? Rindu keluarga ya? Kalau Hana ingin menjenguk keluarga, aku bersedia kok mengantar Hana. Itu kalau Hana tidak keberatan” Kata Ramdhan.
Hatiku semakin berdebar tak menentu. Aku mencoba menerka-nerka perasaan Ramdhan. Apakah ia mencintaiku? Ah, tidak mungkin, ia mencintaiku. Bagaimana mungkin ia mencintaiku?
“Oh, gak kok mas. Aku gak sedang memikirkan sesuatu. Aku hanya teringat dengan keluargaku” Kataku berbohong.
“Kalau Hana memang rindu pulang. Nanti aku bisa antar. Atau kalau gak mau kuantar. Biar Pak Halim saja yang menmdgantar” Kata Ramdhan. Pak halim adalah sopir kiai Zaini.
“Gak usah mas. Terimakasih. AKU belum ingin pulang ke rumah mas”
“Ya, sudah. Kalau begitu. Kalau ada apa-apa. Hana gak perlu sungkan-sungkan untuk meminta bantuanku. Aku pasti akan Bantu kok” Kata Ramdhan “” Teruskan bacanya. Maaf aku sudah ganggu Hana” Lanjut Ramdhan sambil berdiri.
“gak kok mas. Mas ramdhan gak ganggu. Aku malah senang ada teman ngobrol” Kataku.
“Aku mau ke perpustakaan saja” Kemudian berjalan menjauh dariku.
Aku mencoba menimbang-menimbang apakah perhatian mas Ramdahan selama ini adalah bukti kalau ia mencintaku. Ah, tidak mungkin mas Ramdhan mencintaiku. Apalagi aku mendengar kalau mas Ramdhan sudah bertunangan dengan Aisyah, putri kiai Manaf, pengasuh pesantren Baiturrahman.
***

Bulan jatuh di atas langit-langit pesantren Al-Ikhlas. Beberapa santri putri sedang menendangkan sholawat burdahnya Imam Busiri. Ada juga beberapa santri putri yang sedang belajar membaca kitab. Diruang tamu, tampak kiai zaini yang sedang membaca beberapa kita-kitab Hadist, seperti biasanya.
Malam semakin larut. Para santri putri yang semula mendendangkan sholawat burdah itu tak terdengar lagi.
“Belum tidur Han?” Kata Ramdhan yang tiba-tiba berada di sampingku.
“Belum mas. Belum ngantuk” Kataku, dengan pikiran sedikit kacau dengan kedatangan Ramdhan yang tiba-tiba.
“Mas juga belum tidur” lanjut Hana.
“Sama belum ngantuk” jawab Ramdhan sambil duduk tak jauh di depanku.
Di beranda hanya Hana dan Ramdhan. Duduk berhadapan. Tapi tak ada suaru pembicaraan apa pun di beranda itu.  
Lama kami saling terdiam. Bulan purnama di atas sana itu seperti menyihir kami berdua. Sehingga kami kehabisan kata-kata. Kami seperti menyelami perasaan kami masing-masing. Perasan yang tak mungkin kami jajaki kedalamannaya.
“Tahukah kamu Han, kalau selama ini aku diam-diam mencintaimu. Aku merasa kalau engkaulah perempuan yang kukagumi selamai ini. Perempuan yang selama ini aku cari” Kata Ramdhan. Ramdhan memecah kebisuan itu dengan perkataan yang tak bias di sangka oleh Hana.
Aku tergeragap. Perasaan haru bercampur bahagia. Karena selama ini Ramdhan mencintaiku.
“Tidak mungkin mas Ramdhan mencintaiku. Mas Ramdhan pasti berbohong” Kataku berusaha menyembunyikan perasaan bahagiaku.
“Sungguh aku mencintai, Han” Kata Ramdhan
“Bukankah mas Ramdhan sudah bertunangan dengan Aisyah,putri kiai Manaf”
“Ya, tapi aku tak mencintainya. Aku lebih memilih Hana untuk menjadi pendamping hidupku”
“Apakah hana juga mencintaiku?”
Aku tak bisa menjawab. Yang bisa kulakukan hanya menggangguk.
“Kalau Hana mencintaiku. Aku bisa memutuskan pertunaganku dengan Aisyah. dan kita segera menikah, Han”
“Bagaimana dengn kiai Zaini, Nyai Romlah. Tentu ia tak akan setuju”
“Sebenarnya sejak dari awal Abah dan Umi menginnginkan Hana menjadi pendamping hidupku. Kata abah, engkau akan menjadi istri yang baik. Itu sebabnya, Abah memintaku untuk menanyakan perasaanmu kepadaku. Jika kamu mencintaiku dan mau menikah denganku. Maka pernikahan akan diadakan secepat mungkin”
Aku sangat bahagia. Ingin rasanya aku menangis. Tapi aku tahan, agar air mataku tidak jatuh.
Malam itu, kubenamkan diriku pada rakaat-rakaat tahajud. Aku bersyukur karena tuhan memberkatiku. Bertemu dengan orang-orang yang begitu baik kepadaku.
***
Tanggal perkawinan itu sudah ditentukan. Undangan-undangan juga pun sudah disebar. Aku ingin pulang kerumah meski sebentar. Melepas rasa rindu yang tak tertahankan. tiba-tiba aku jadi rindu pada ayah, ibu, dan kakakku. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.