Tahun-tahun terakhir ini, dunia sastra Indonesia geger
dengan datangnya dua isu “perempuan” dan seks. Isu perempuan dan seks
dalam arti pengarang perempuan yang semakain menjamur, maupun isu
tentang seks sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren sekarang
ini. Meskipun tergolong muda tidak sedikit dari mereka (pengarang
perempuan) mendapatkan penghargaan sastra dari pengamat dan kritikus
sastra dan Klaim-klaim sebagai pendobrak tabu dan lain sebagainya.
Katrin Bandel dalam buku kumpulan esei-eseinya yang berjudul Sastra, Perempuan, Seks mencoba
merespon klaim-klaim yang selama ini yang cenderung memuja-muja
pengarang perempuan, sebagai penulis hebat, baru atau sebagai
“sastrawangi” dan lain sebagainya. Benarkah karya mereka demikian hebat
sehingga pantas dihebohkan seperti itu?
Tulisan ini sudah pernah di terbitkan Kotan Harian Bernas Jogja
Meletusnya
tragedi berdarah paling mengerikan dalam lembaran sejarah Indonesia
yang mengakibatkan hilangnya jutaan nyawa samapai sekarang masih
menjadi kontroversi yangt semakin melebar. Tragedi yang sering disebut
Pemeberontakan Gerakan 30 September 1965 (G-30-S) masih belum jelas
siapa dalang dibalik tragedi itu.
Setiap
kali membaca sejarah G-30-S, semua memusatkan pada Partai Komunis
Indonesia (PKI), yang menjadi terdakwa sebagai dalangnya. Mungkin kita
akan skeptis, merasa heran dan terkejut, ketiaka ada sebuah analisis
gerak sejarah, serta sisipan analisis dan data yang tergolong baru dan
langka, bahkan tidak kita temukan dalam discourse dan wacana “resmi ” yang kita nikmati selama ini, yang menagtakan bahwa dalang dalam tragedi berdarah sebenarnya bukan PKI.
Nun jauh di ufuk lalu planet kita yang mungil ini sering dikunjungi oleh hamba-hamba robbani yang telah mengukir sejarah ummat manusia dengan ornamen surgawi. Mereka adalah para penempuh jalan kebenaran yang tiada tanding, para pencari yang berhasil menemukan dirinya yang bukan anak struktur, dan para piawai yang telah menyelamatkan bumi dari kefanaannya.
Mereka datang dari puncak gunung, dari tepi ngarai, pinggir samodera dan dari padang pasir yang tandus bukan untuk berburu dan mengumpulkan kekayaan duniawi, melainkan hendak mengajak ummat manusia untuk menunda datangnya hari kiamat dan sekaligus mengurungkan kematian.
Hidup beragama tidak lantas hidup akan lebih tenang dan hidup akan semakin bijak dan lurus. Sebagaimana tujuan diturunkan agama itu sendiri, yaitu sebagai penunjuk pada jalan yang lurus. Hidup beragama mempunyai tantanganya sendiri. Belakangan ini justru agama dituding sebagai pemantik timbulnya permasalahan. Sebuah contoh Jemaah Ahmdiyah yang diangkat dalam penulisan skripsi ini.
Jemaah Ahmadiyah beberapa tahun terahir ini mengalami mimpi buruk kemanusiaan. Dibeberapa daerah yang menjadi basis Ahmadi selalu hidup dalam terror, kantor mereka dalam ancaman penggerebekan dan penghancyuran, rumah-rumah pengikut jemaah Ahmadiayah dibakar oleh kelompok yang bersebrangan dengan ahmadiyah, kelompok yang menyerag Ahmadiyah mengatas namakan pembersihan aliran sesat dalam Islam.
Jemaah Ahmadiyah telah dianggap sebagai aliran sesat dan keluar dari Islam. Dipaksa untuk tidak mengakui sebagai bagian dari Islam. Kelompok yang mengatasnamakan Islam yang sangat benci dengan Ahmadiyah dan Instrumen pemerintah pun ikut dalam upaya diskriminasi terhadap Jemaah Ahmadiyah. Bahkan sebagian besar dri mereka memfasilitasi kelompok yang bersebrangan dan tidak suka untuk menghncurkan Jemaah Ahmadiyah
Sebenarnya apa arti kesesatan dalam hidup beragama. Apa arti perbedaan pandangan dan keyakinan dalam hidup yang multukultural? Sebuah kata bijak seorang sufi besar, Abu Yazid Bustami mengatakan, Barangsiapa dirinya meresa lebih baik dari Fir’aun maka dia sunggh sombong. Disinalah arti pentingnya hidup rendah hati tidak merasa lebih baik dari orang lain. Menerima perbedaan pandangan dan keyakinan hidup orang lain dalam hidup yang multikultural.
Skripsi, tesis, atau disertasi, bagi sejumlah mahasiswa tingkat akhir, dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan dan menyandang gelar sarjana. Mereka juga berkesempatan membuat mahakarya. Apalagi, karya itu kemudian diterbitkan sebagai buku.
Tetapi, hal itu menjadi momok bagi sebagian mahasiswa yang enggan atau tidak mampu membuatnya. Tak heran, ada mahasiswa yang tidak lulus hanya karena skripsinya belum selesai. Karena itu, tidak jarang mahasiswa yang menempuh jalur cepat, yakni membeli.
Praktik memperjualbelikan skripsi, tesis, atau disertasi bukan hal baru lagi. Kedengarannya praktik itu memang janggal. Tetapi, hal tersebut terus berlangsung hingga sekarang. Dengan menyiapkan uang sesuai kesepakatan, mahasiswa akan menerima skripsi atau tesis secara utuh. Ironisnya, pihak akademik kurang bisa mengendus apakah skripsi mahasiswa benar-benar karya autentik, plagiat, atau dibuatkan orang lain.
Di sinilah berlaku bahwa pendidikan dan gelar diperoleh mereka yang punya uang. Lantas, tanpa rasa malu, orang membeli gelar ke mana-mana. Apalagi, di era internet, banyak biro yang menawarkan jasa pembuatan skripsi, tesis, ijazah, diploma, penghargaan, dan sebagainya. Karena punya uang dan cari nama, mereka bersedia diperas untuk prestise yang tidak terhormat.
Kejahatan Akademik
Memperjualbelikan atau jasa pembuatan skripsi, tesis, atau disertasi adalah kejahatan akademik atau academic crime dan moral assasine. Sebab, dalam kultur akademik, penjiplakan karya ilmiah atau dibuatkan orang lain merupakan pelanggaran yang tak bisa ditoleransi.
Sanksi yang dijatuhkan pun cukup ekstrem, yakni dikeluarkan dari institusi pendidikannya. Tetapi, di negeri ini, kultur akademik hanyalah retorika. Kejahatan seperti itu memang sudah legal dalam dunia akademik kita.
Bisnis dan biro jasa yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar (memperjualbelikan skripsi, dll) adalah kejahatan akademik. Mereka adalah tukang tadah atau penjahat yang menolong para kriminal untuk melakukan penipuan. Terlepas dari halal tidaknya profesi, bentuk bantuan seperti itu sebenarnya tidak diperbolehkan dalam proses belajar. Mahasiswa harus bisa menyusun karya tulis sendiri. Kalau sebagai rekan diskusi mahasiswa, tentu itu tidak masalah.
Bahkan, kadang-kadang ada beberapa mafia kampus (oknum dosen) yang menyediakan bahan skripsi sekaligus memberikan bimbingan dengan sedikit perubahan di sana sini. Tapi, sang dosen juga sangat hati-hati. Sebab, dia hanya menjual jasa kepada mahasiswa yang benar-benar dekat dengannya.
Bagaimanapun, skripsi, tesis, atau disertasi adalah kebanggaan karya akhir kita saat kuliah. Jadi, secara moral, kita harus membuatnya sendiri. Mahasiswa seharusnya menyadari bahwa menulis adalah bagian dari proses belajar. Memang pada dasarnya belajar menulis itu tidaklah mudah. Apalagi, budaya menulis dan membaca masyarakat Indonesia sangat rendah. Sebagian besar masyarakat juga lebih menggemari budaya tutur dan mendengar daripada budaya menulis dan membaca.
Terkait dengan budaya menulis dan membaca, Thomas Tyner membahasnya dalam buku Writing Voyag. Menulis merupakan seni mendayung gagasan, pikiran, ataupun pangalaman dan karya tulis ibarat lautan yang tak bertepi (Aep Kusnawan, 2004).
Jadi, karena tidak terbiasa membaca dan menulis, menjiplak tulisan sudah menjadi hal yang sangat biasa. Biro-biro yang menjual jasa tertentu, khususnya pembuatan skripsi, tesis, atau disertasi, sangat mudah kita temukan.
Intelektual Pragmatis
Dalam kacamata pendidikan, hal itu merupakan kegagalan terbesar dalam penyelenggaraan pendidikan. Lembaga pendidikan hanya melahirkan kaum akdemisi instant dan pragmatis. Pelaksanaan proses belajar-mengajar sekadar memenuhi tuntutan formal akdemik lembaga pendidikan, misalnya demi mendapatkan ijazah guna memasuki dunia kerja.
Dalam perspektif sosiologi pengetahuan, kaum intelektual masuk dalam stratifikasi kelas sosial baru yang menguasai pengetahuan. Dengan pengetahuan, mereka memiliki kapital budaya (cultural capital) yang bisa dikembangkan menjadi kapital uang atau kapital politik.
Namun, maraknya memperjualbelikan skripsi, tesis, atau disertasi membuktikan bahwa kaum intelektual dan akademisi justru tidak memiliki kapasitas pengetahuan yang memadai untuk dikembangkan, bagaimana mereka memiliki kapital budaya?
Dalam konteks budaya, pendidikan merupakan proses pembudayaan. Kalau budaya itu buah keadaban manusia, tentunya peserta didik dituntut menjadi manusia yang beradab. Jadi, pendidikan jangan malah menjadikan manusia semakin tidak beradab dan tidak manusiawi.
Bagaimana derajat akan diangkat bila proses mencari ilmu ditempuh dengan jalan curang, gampang, asal penampilan, dan seterusnya. Dan, kejahatan akademik itu, bila kita urut, masih sangat panjang. Yang jelas, sejak SD hingga perguruan tinggi, kreasi dan hati nurani anak didik kita harus dibentuk.
Georgiou selama hidupnya baru pertama kalinya merasakan getaran bait puisi yang mengguriskan kelembutan yang melampaui semua keresahannya, melampaui seluruh gelora dan hasratnya akan kehidupan. Atas dorongan kuat rasa keingin tahuaanya mengungkap makna hidup dan cinta yang tersirat di syair Rumi yang mampu menggetarkan hati dan jiwanya, Gorgiou meninggalkan ayah, sahabat dan kota Florence yang selama ini mengisi celah-celah kehampaan jiwanya.
Dia mengembara kepelosok negeri Yunani, Serbia samapi ke Konya Turki. Sebagai seorang pelukis yang mewarisi bakat ayahnya. Gorgiou lebih suka melukis orang-orang suci. Sebagai penganut Kristen Ortodoks dia melukis Yesus dan Perawan Suci Bunda Maria dan memperbaiki lukisan-lukisan orang suci yang sudang usang dimakan waktu. Dalam tas yang dibawanya ada lukisan Perawan Bunda Maria berwajah gelap yang selalu dibawanya, dan dia meyakini bahwa Bunda Maria akan melindungi perjalanannya.
Pengembaraan mencari makana dan cinta sejati Gorgiou sedikit terungkap sejak pertemuannya dengan para rahib di biara dan pertapa para pertapa, serta para darwis atau orang sufi Islam pencinta Tuhan. Perjalanannya semakin mendekati kota tujuannya yang sejati. Perjalanan suci manusia yang mengikuti bisikan hati yang paling suci, demi mengungkap tabir kehidupan.
Pengalamnya dalam perjalanan mulai bertemu dengan para rahib, para darwis, setelah sampai di Konya serta setelah pulang dari pengembaraannya, Gorgiou merasakan sesuatu yang berbeda dari kehidupan sebelm penegmbaraannya dia diberkati oleh kekuatan yang meta primata dan hanya orang tertentu saja yang bisa mengalaminya.
Tentang Rumi
Novel memikat ini akan membawa khalayak pembaca pada sejarah abad ketiga belas, semasa sang darwis Berputar hidup. Jallaluddin Rumi penyair Islam yang tulisan dan sayir-syairnya sangat universal mampu menembus tembok pemisah perbedaan agama, bangsa dan budaya sampai sekarang.
Rumi adalh pendiri aliran mistis Islam yang mayhur dengan sebutan tarekat Maulawiyah. Tarekat ini menari dengan diringi musik untuk mencapai puncak ekstase kecintaan atau disebut dengan sema. Bagi pengikut tarekat Maulawiyah, musik dan tarian merupakan jalan terbaik menuju penyatuan dengan Sang Kekasih. Musik dan tarian memberinya kenikmatantiada tara yang kadang tak akan pernah dirasakan lagi.
Dalam buku ini pembaca akan merasakan indahnya syair-syair Rumi yang sangat masyhur tersebut. Pembaca akan mendapatkan beberapa informasi tentang sejarah kehidupan para rahib di biara yang mengasingkan diri dari kehidupan duniawi berbeda dengan kehidupan para darwis, tidak pernah mengasingkan diri dari dunia nyata, justru jalan itu menuntun memasuki dunia jauh lebih kedalam lagi dan suci.
Buku yang akan menuntun pembaca pada sebuah perjalanan panjang mencari legenda pribadi dan cinta sejati yang terkubur dalam keangkuhan manusia sendiri, pemujaan pad dunia dan kerakusan manusia akan kehidupan duniawi, sehingga mengabaikan kehidupan rohani. yang mengaharpakan pertolongan adalah cangkir rahasia. Dengarkan erangan seekor anjing kepada tuannya. Rengkekan itu adalh penyambungnya. Ada anjing-anjing yang patuh dan tidak seorang pun tahu namanya. Maka jadikanlah hidupmu seperti salah satu anjing-anjing itu (Rumi).
Buku Memburu Rumi dalam edisi bahasa Indonesiaini,banyakekurangan dalam penerjemahannya. Memang, kesulitan terbesar dalam penerjemahan khususnya karya fiksi seperti puisi dan novel adalah pada pemilihan diksi-diksinya. Penerjemah akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan bahasa yang sangat rumit.
Dan tantangan terbesar bagi penerjemah adalah ketika imaji yang dapat ditangkap dari sebuah karya harus dilahirkan kembali dengan bahasa yang lain, dan bagaimana agar hasilnya berhasil kembali menjadi sebuah kreasi bahasa yang indah seperti karya aslinya
Seberapa kuat sebuah keyakinan akan mengendalikan hidupku? Mampukah aku melawan mereka yang sangat berlawanan dengan keyakinanku sendiri? Tuhan… Jangan tinggalkan aku sendirian di sudut pengembaraan mencari-Mu. Jangan abaikan hasratku untuk menemukan-Mu!
Denting sendok yang beradu dengan piring pada makan malam itu seperti lonceng kematianku. Semua mata yang melihatku seperti hendak menikam. Ruang makan terasa sunyi. Obrolan di meja makan tidak terdengar. Tak banyak yang bisa kulakukan selain bercumbu dengan sendok dan garpu sekedar menghilangkan kegaduhan hati.
Makan malam sepi seperti itu sudah hampir setiap malam menyelimuti keluarga besarku. Hanya karena sebulan sebelumnya aku berdebat dengan kakakku soal keyakinan yang sudah turun temurun di anut oleh keluargaku. Kakak dan Ibu menggangap pendapatku bersebrangan dengan keyakinan keluarga selama ini. Hanya ayahlah yang memberikan kebebasan berpendapat tentang apa saja yang menjadi kegelisahanku.
“Hana, beberapa minggu ini saya lihat kamu lebih banyak diam. Ada apa?” Ayah memecah kebisuan di meja makan saat makam malam usai dan semuanya masih enggan meninggalkan meja makan.
“Tidak apa apa-apa, Yah” jawabku datar mencoba menutupi semua kegelisahanku.
“kau anakku, bicaralah pada ayah. Apa yang membuatmu gelisah?” ayah mendesak.
Ibu dan kakak meninggalkan aku dan ayah berdua saja di meja makan tanpa sedikit pun bersuara. Saat mereka sudah tidak terlihat. Aku mulai bicara pada ayah dengan keraguan yang semakin menyayat.
“ehmmm….Aku hanya mulai ragu dengan keyakinanku sendiri. Keyakinan tentang Tuhan yang selama ini mengisi kekosongan hatiku. Yang ternyata justru semakin kosong. Aku merasa bukan Dia, Tuhan yang seharusnya kusembah ”. Aku tahu jawabanku itu sangat tidak pantas di ucapkan di depan ayah.
“Apa maksudmu?” Suara ayah tinggi terperangah mendengar jawabanku. Seperti belum percaya dengan yang barus saja dia dengar. Aku diam saja. Melihat ayah seperti sedang di puncak kemarahan.
“Sebaiknya kita bicarakan ini di luar” suara ayah mulai terdengar pelan.
Ayah berdiri dari kursinya dan melangkah keluar rumah. Aku berdiri dan mengukuti di belakangnya menuju beranda rumah. Pembicaraan malam itu berlangsung hangat. Ayah tidak memaksakan keyakinannya. Aku diberi kebebasan untuk menetukan jalanku sendiri.
Suatu hari ayah pergi ke luar kota untuk waktu yang lama. Sejak kepergian ayah aku semakin terasing dari rumahku sendiri. Ibu dan kakak sudah tidak mau berbicara lagi denganku. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa berdamai dengan suasana rumah yang terasa sempit semakin ini. Aku sudah tidak tahan dengan keadaan ini. Keluargaku sepertinya sudah tidak menginginkan keberadaanku.
Di suatu pagi keiinginanku untuk segera meninggalkan rumah semakin kuat. Tanpa berpikir panjang. Aku pun meninggalkan rumah waktu itu juga. Meninggalkan secarik kertas dalam buku di meja kerja ayah. Menyembunyikannya dari Ibu dan kakak agar hanya ayah yang membaca surat itu.
Dear Ayah,
Ayah, Hana pergi mencari keyakinanku. Tidak ada yang perlu Ayah khawatirkan. Aku akan mencari dan menentukan jalan hidupku sendiri. Sampaikan salamku pada ibu dan saudara-saudaraku karena aku tidak berdaya dengan tatapan mereka. Aku akan pulang saat aku menemukan yang kucari.
Salam hormatku,
Hana
Sebelum meninggalkan rumah di pagi yang masih gelap. Aku ke kamar ibu, melihatnya masih tertidur pulas. Aku merasa dia tahu kehadiranku dan aku merasakan sungguh kasihnya begitu berat melepasku. Setelah keluar dari rumah Aku berdiri di halaman rumah. setiap pojoknya serasa menahanku. Seperti tidak rela kutinggalkan. Ayah seperti memanggil-manggil dari pintu rumah dan Ibu menagisi kepergianku.
Sebuah kereta pagi mengantarku pada tujuan pertamaku. Menemui seorang sahabat di kota lama. Dia berbeda keyakinan denganku, tapi dia sangat baik dan santun. Dia mengenal banyak orang bijak yang bisa dijadikan pembimbing dalam pencariaku.
Sahabatku mengantarkan aku pada seorang bijak yang di kenal sebagai penafsir kebahagiaan. Seorang bijak yang selalu menebar cinta dan menghikmati hidup. Seoarang yang santun dan ikhlas berbagi dengan siapa saja. Tanpa membedakan agama, keyakinan, dan latar belakang apapun dia terima di rumahnya. Seoarang bijak yang selalu memberi petunjuk mengobati segala macam penyakit jiwa. Ketulusan dan keikhlasan hatinya, serta tutur bicaranya yang santun menyambutku saat pertama kali menemuinya.
Setelah beberapa kali menemui penafsir kebahagiaan itu. Berbagi denganya tentang segala hal yang kugelisahkan selama ini. Aku semakin memantapkan diri dengan jalan yang akan aku pilih. Semua yang di katakan orang bijak itu sangat masuk akal dan benar. Berbeda sekali dengan yang selama ini menjadi keyakinan keluargaku.
Di depan orang bijak yang telah menjadi guruku itu. Aku mengutarakan niat tulusku untuk meyakini kebenaran. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat. Meyakini ke-esaan Tuhan dan nabi Muhammad rasul-Nya. Sang guru dan sahabatku mendengarnya dengan haru sampai meneteskan air mata.
Guru yang membimbingku ke jalan kebahagian yang kini telah kujalani berpesan agar aku terus belajar ilmu agama. Dia menganjurkan untuk belajar pesantren Kiai Zaini, namanya pondok pesantren putra dan putri al-Ikhlas. Di sebuah desa yang tak jauh dari rumahnya.
Saat pertama datang ke pesantren, aku masih belum menggunakan jilbab. Seperti sahabat yang menemaniku dan wanita muslimah lain. Aku datang ke pesantren bersama sahabatku yang dengan ikhlas merelakan waktunya bersamaku selama ini.
Pengasuh pesantren itu sudah cukup tua. Usianya sudah sekitar tujuh puluh tahun. Tetapi wajahnya masih segar. Tak tampak kulit tua yang bergaris di wajahnya. Tubuhnya pus masih sangat tegar. Tutur bahasanya santun.
Setelah menceritakan tentang perjalananku sampai pertemuan dengan guru yang membimbingku, hingga kutemukan kebahagiaanku sekarang. Aku mengutarakan keinginanku untuk belajar ilmu agama di pesantrennya. Kiai Zaini sangat senang ketika aku memutuskan untuk belajar agama di pesantrennya.
Tidak seperti santri-santri putri lainnya yang tinggal di sebuah asrama yang yang yang berukuran lebih kecil dari kamarku yang dulu, aku disuruh untuk tinggal di rumah kiai Zaini. Sebuah kamar yang cukup besar. Sebuah kamar yang terletak di pojok kiri ruangan rumah kiai Zaini. Ada sebuah foto perempuan yang seumuranku tergantung di dinding kamar. Beberapa kitab yang berjejer di rak. Ada perasaan tidak enak yang bergelayut dihatiku. Karena aku diperlakukan secara istimewa oleh keluarga kiai Zaini. Terutama Nyai Romlah, istri kiai Zaini. Ia begitu menyanyangiku. Seolah-olah aku ini bagian dari keluarganya.
“Semenjak aku melihatmu pertama kali. Aku langsung teringat dengan anak perempuanku, Zahrah. Entah kenapa, aku seperti melihat sosok Zahrah pada dirimu” Kata nyai Romlah. Kulihat raut wajahnya yang selalu ceria itu berubah menjadi sedih. Ada kesedihan mendalam yang kutangkap pada wajahnya. Kesedihan yang tak ingin ia bagi pada siapapun.
“Memangnya apa yang terjai dengan Zahrah, Nyai?” Kataku membeeranikan diri.
Lama Nyai Romlah terdiam. Sebelum kemudian ia bercerita kepadaku tentang musibah yang menimpa Zahrah. Sebuah kecelakaan mobil telah merenggut anak perempuan kesayangannya itu setahun yang lalu. Barulah kemudian aku tahu kalau foto yang tergantung didinding itu adalah foto Zahrah. Dan kamar yang kutempati itu adalah kamar Zahrah.
Aku merasa bahagia. Karena aku menemukan sebuah keluarga yang sangat menyanyangiku. Tapi terkadang ada kesepian yang begitu dalam. Rasa rindu yang tak tertahankan. Seringkali aku teringat dengan ayah, ibu, dan kakakku. Bagaimana kabarnya mereka sekarang? Apakah mereka baik-baik saja? Ingin rasanya, aku pulang untuk sementara waktu. Menjenguk ayah, ibu, dan kakakku untuk memastikan kalau mereka baik-baik saja. Dan aku ingin berbagi kebahagiaan dengan ayah. Kareana aku menemukan sebuah keluarga yang sangat baik terhadapku. Sehingga ayah tak perlu menghawatirkan keadaanku. Tapi, aku tak mungkin pulang sebelum pencarianku selesai. Aku harus banyak belajar agama yang telah kuyakini.
Waktu terasa cepat berganti. Banyak hal yang berganti dan berubah. Tapi perhatian kiai Zaini dan Romlah tak pernah berubah kepadaku. Seringkali aku juga diajak oleh Nyai Romlah untuk menemani Nyai Romlah berceramah agama di pesantren-pesantran. Kepada orang-orang yang menanyakan tentang diriku. Nyai Romlah akan mengatakan kalau aku adalah anaknya.
Semakin lama keyakinanku tentang Islam semakin kokoh. Nyai Romlah dengan penuh perhatian terus mengajariku tentang ajaran Islam. Sesekali waktu, sehabis sholat shubuh. Nyai Romlah akan bercerita kepadaku tentang keutamaan-keutamaan nabi Muhammad. Kesetiaan-kesetiaan para sahabat nabi untuk membela agama Islam.
***
Suatu pagi, ketika Aku sedang duduk di Beranda. Membaca kitab Nashahiul Ibad: Nasehat Bagi Para Hamba-Hamba Allah, tahu-tahu Ramdhan duduk tak jauh di depanku.
“Kamu rajin sekali Hana” Kata Ramdhan mengagetkanku.
Aku tergeragap. Hampir saja kitab Nashahiul Ibad itu jatuh dari tanganku. Entah kenapa setiapkali aku berada di dekat Ramdhan hatiku berdetak kencang. Detak yang tak sepenuhnya kupahami. Apalagi ketika Ramdhan menatapku dengan tatapan yang begitu tajam. Tatapan yang seakan-seakan ingin menyelam ke dalam jiwaku. Di hadapannya aku seperti seekor rusa dihadapan seekor singa. Apakah aku mencintanyainya?
Barangkali denyar-denyar cinta itu mulai tumbuh di hatiku. Perempuan mana yang tak akan jatuh cinta dengan Ramdhan, putra kiai Zaini yang terkenal sangat alim itu. Putra kiai satu-satunya yang akan menggantikan kiai Zaini kelak. Disamping pengetahuan agamanya yang sangat luas, Ramdhan memiliki wajah yang sangat tampan. Perawakannya yang tinggi semampai. Wajahnya yang putih bersih, mata jernih dan tajam. Perempuan mana yang tak akan terpesona dengannya. Semua para santri putri selalu membicarakan putra kiai Zaini itu diam-diam. Barangkali aku juga seringkali memikirkannya.
“Melamun saja, Han? Apa yang kau pikirkan? Rindu keluarga ya? Kalau Hana ingin menjenguk keluarga, aku bersedia kok mengantar Hana. Itu kalau Hana tidak keberatan” Kata Ramdhan.
Hatiku semakin berdebar tak menentu. Aku mencoba menerka-nerka perasaan Ramdhan. Apakah ia mencintaiku? Ah, tidak mungkin, ia mencintaiku. Bagaimana mungkin ia mencintaiku?
“Oh, gak kok mas. Aku gak sedang memikirkan sesuatu. Aku hanya teringat dengan keluargaku” Kataku berbohong.
“Kalau Hana memang rindu pulang. Nanti aku bisa antar. Atau kalau gak mau kuantar. Biar Pak Halim saja yang menmdgantar” Kata Ramdhan. Pak halim adalah sopir kiai Zaini.
“Gak usah mas. Terimakasih. AKU belum ingin pulang ke rumah mas”
“Ya, sudah. Kalau begitu. Kalau ada apa-apa. Hana gak perlu sungkan-sungkan untuk meminta bantuanku. Aku pasti akan Bantu kok” Kata Ramdhan “” Teruskan bacanya. Maaf aku sudah ganggu Hana” Lanjut Ramdhan sambil berdiri.
“gak kok mas. Mas ramdhan gak ganggu. Aku malah senang ada teman ngobrol” Kataku.
“Aku mau ke perpustakaan saja” Kemudian berjalan menjauh dariku.
Aku mencoba menimbang-menimbang apakah perhatian mas Ramdahan selama ini adalah bukti kalau ia mencintaku. Ah, tidak mungkin mas Ramdhan mencintaiku. Apalagi aku mendengar kalau mas Ramdhan sudah bertunangan dengan Aisyah, putri kiai Manaf, pengasuh pesantren Baiturrahman.
***
Bulan jatuh di atas langit-langit pesantren Al-Ikhlas. Beberapa santri putri sedang menendangkan sholawat burdahnya Imam Busiri. Ada juga beberapa santri putri yang sedang belajar membaca kitab. Diruang tamu, tampak kiai zaini yang sedang membaca beberapa kita-kitab Hadist, seperti biasanya.
Malam semakin larut. Para santri putri yang semula mendendangkan sholawat burdah itu tak terdengar lagi.
“Belum tidur Han?” Kata Ramdhan yang tiba-tiba berada di sampingku.
“Belum mas. Belum ngantuk” Kataku, dengan pikiran sedikit kacau dengan kedatangan Ramdhan yang tiba-tiba.
“Mas juga belum tidur” lanjut Hana.
“Sama belum ngantuk” jawab Ramdhan sambil duduk tak jauh di depanku.
Di beranda hanya Hana dan Ramdhan. Duduk berhadapan. Tapi tak ada suaru pembicaraan apa pun di beranda itu.
Lama kami saling terdiam. Bulan purnama di atas sana itu seperti menyihir kami berdua. Sehingga kami kehabisan kata-kata. Kami seperti menyelami perasaan kami masing-masing. Perasan yang tak mungkin kami jajaki kedalamannaya.
“Tahukah kamu Han, kalau selama ini aku diam-diam mencintaimu. Aku merasa kalau engkaulah perempuan yang kukagumi selamai ini. Perempuan yang selama ini aku cari” Kata Ramdhan. Ramdhan memecah kebisuan itu dengan perkataan yang tak bias di sangka oleh Hana.
Aku tergeragap. Perasaan haru bercampur bahagia. Karena selama ini Ramdhan mencintaiku.
“Tidak mungkin mas Ramdhan mencintaiku. Mas Ramdhan pasti berbohong” Kataku berusaha menyembunyikan perasaan bahagiaku.
“Sungguh aku mencintai, Han” Kata Ramdhan
“Bukankah mas Ramdhan sudah bertunangan dengan Aisyah,putri kiai Manaf”
“Ya, tapi aku tak mencintainya. Aku lebih memilih Hana untuk menjadi pendamping hidupku”
“Apakah hana juga mencintaiku?”
Aku tak bisa menjawab. Yang bisa kulakukan hanya menggangguk.
“Kalau Hana mencintaiku. Aku bisa memutuskan pertunaganku dengan Aisyah. dan kita segera menikah, Han”
“Bagaimana dengn kiai Zaini, Nyai Romlah. Tentu ia tak akan setuju”
“Sebenarnya sejak dari awal Abah dan Umi menginnginkan Hana menjadi pendamping hidupku. Kata abah, engkau akan menjadi istri yang baik. Itu sebabnya, Abah memintaku untuk menanyakan perasaanmu kepadaku. Jika kamu mencintaiku dan mau menikah denganku. Maka pernikahan akan diadakan secepat mungkin”
Aku sangat bahagia. Ingin rasanya aku menangis. Tapi aku tahan, agar air mataku tidak jatuh.
Malam itu, kubenamkan diriku pada rakaat-rakaat tahajud. Aku bersyukur karena tuhan memberkatiku. Bertemu dengan orang-orang yang begitu baik kepadaku.
***
Tanggal perkawinan itu sudah ditentukan. Undangan-undangan juga pun sudah disebar. Aku ingin pulang kerumah meski sebentar. Melepas rasa rindu yang tak tertahankan. tiba-tiba aku jadi rindu pada ayah, ibu, dan kakakku. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.
Hampir setiap hari Ostiens menghabiskan waktunya duduk di beranda lantai dua rumahnya. Selama berbulan-bulan dia hanya melihat ke arah timur. Tepatnya di sebuah daerah yang berada jauh di Timur yang entah.
Sebuah daerah yang memancarkan cahaya yang mengagumkan. Siang dan malam selalu ada yang cahaya yang memancar. Dia memandangi cahaya yang begitu lembut dan indah itu. Langitnya sangat cerah. Tak pernah ada mendung gelap. Hujan yang sangat lebat dan panas yang menyengat.
Semakin lama, cahaya itu mememenuhi hati dan perpikiranya. Dia mulai membuat kemungkinan-kemungkinan untuk menjangkau jauhnya cahaya itu. Mungkin cahaya itu berasal dari sebuah kota yang cukup megah dengan lampu-lampu yang berkejaran dengan malam. Sinarnya membumbung ke langit menembus kabut malam. Bias cahanya membuat gulungan awan seperti cahaya merah menyala di angkasa.
Cahaya itu sekilas tampak seperti tidak datang dari bawah, tetapi datang dari atas. Mungkin ada bintang atau bulan yang hanya menyinari daerah itu setiap malam. Mungkin ada benda langit yang bisa menyimpan sinar matahari berada tepat di atasya dan tak penah berpindah.
Ketakjuban itu semakin kuat. Kemudian dia menyebutnya sebagai Kota Cahaya. Dan dia pun memutuskun untuk mengetahui lebih dekat dan berada di kota itu. Ostiens tidak pernah pergi sejauh ini sebelumnya. Dengan bekal rasa takjub dan keingintahuan yang besar, dia meninggalkan keluarganya. Tidak ada yang tahu keberangkatanya. Dan tidak ada yang tahu kemana dia akan pergi. Dia berangkat saat semuanya sedang tertidur lelap. Membawa tas kecil berisi pakaian dan sejumlah uang untuk bekal diperjalanan. Dia berjalan menuju kota bercahaya itu. Dia pun tidak pernah bepikir berapa lama perjalanan yang akan ditempuh menuju Kota Cahaya itu.
***
Dia berjalan sudah cukup jauh dari rumahnya. Tidak pernah memalingkan wajahnya dari cahaya di arah Timur itu. Tak pernah ada kehawatiran atau ketakutan dengan yang akan ditemuinya. Tak pernah ada penyesalan dengan yang di tinggalkanya. Dia selalu berhenti di kota yang dilaluinya untuk memastikan Kota Cahaya tujuanya. Tetapi bukan kota itu yang dia cari. Kota Cahaya itu masih terlihat jauh di Timur.
Dia tida pernah bertanya tentang Kota Cahaya itu pada orang-orang yang ditemuninya di tempat-tempat yang dia singgahi. Saat dia sampai di sebuah desa sepi yang jauh dari kota. Dia mulai lelah dan hendak beristirahat.
Kemudia dari kejauhan dia melihat seseorang yang sedang duduk beristirahat di bawah sebuah pohon. “ Dari warna kulitnya, pakaian yang dikenakan, tas yang di letakkan sampingnya dan wajah lelah karena mungkin dalam perjalanan jauh. Dia pasti pengembara dari barat yang kelelahan. Tetapi kemana dia hendak pergi. Apakah dia juga menuju ke Timur, ke Kota Cahaya itu atau dia datang dari Kota Cahaya di Timur dan hendak pulang ke barat?” Dia menghampiri pengembara itu dengan penasaran.
“apakah Anda pengembara dari Barat?” Tanya pengembara itu, sebelum Ostiens menanyakanlebih dulu. Saat itu Ostiens sedang membersihkan batu untuk tempat duduk di bawah pohon tak jauh dari pengembara itu duduk.
“Ya, saya dari Barat. Dari desa Tulip ” Ostiens menjawab singkat. Menarik nafas panjang sambil metakkan tas di sampingnya.
“ Kemana tujuan Anda, hingga berjalan sejauh ini?” Pertanyaan Pengembara itu membuat Ostiens diam tercengang. Dia tidak tahu tempat tujuanya, dia hanya ingin pergi ke Kota Cahaya yang entah di mana letaknya. Dia mulai memberanikan diri menayakan tentang Kota Cahaya pada pengembara itu.
“Saya selalu melihat cahaya yang menyala di langit daerah Timur. Dan langit yang sangat cerah di siang hari. Mungkin sebuah kota megah dan selalau bercahaya. Saya menuju Kota Cahaya itu” Ostiens menjawab yakin dengan tujuanya.
“Ha… ha… ha…! Kota Cahaya apa yang Anda cari. Tidak ada kota bercahaya di Timur.” Lanjutnya “Saya sudah dari Timur, tidak pernah ada yang membicarakan kota itu. Di timur Anda hanya akan menemukan kota yang kering gersang dan sepi.” Pengembara itu tertawa mendengar jawaban Ostiens.
“Lihatlah ke Timur. Pernahkah Anda melihat cahaya selembut itu dan langit secerah itu sebelumnya?” Ostiens sambil menoleh dan menatap ke arah ke arah Timur. Seperti memberi isyarat pada Pengembara untuk melihat ke arah yang dia lihat. Ostiens melihat wajah Pegembara itu. Dari sorot mata dan wajahnya. Pegembara itu takjub dan heran melihat ke arah yang sudah dia lalui. Sebuah cahaya yang sangat lembut terpancar. Langit yang sangat cerah. Dia diam saja dan seperti meyesali tawa dan yang baru saja dia katakana pada Ostiens.
Hari sudah mulai remang. Matahari perlahan tenggelam di langit barat. Cahaya itu semakin jelas terlihat. Pengembara itu, melihat takjub pada cahaya yang baru saja dilihatnya. Tidak sedikit pun bersuara. Semakin gelap, Kota Cahaya semakin terlihat lebih dekat. Pengembara itu masih duduk termenung melihat keindahan semburat cahaya yang anggun di Timur. “Malam ini saya akan bermalam di sini. Apakah Anda ingin melajutkan perjalanan ke Barat?” Tanya Ostiens pada pengembara yang sedang duduk terpaku melihat ke angkasa di ufuk timur. Tak ada jawaban. Pengembara itu masih belum melihat ketakjub cahaya itu. Ostiens memegang punggung pengembara itu dan mengulangi pertanyaanya lagi.
“Malam ini saya akan bermalam di bawah pohon ini. Anda ingin melajutkan perjalanan ke Barat?” Ostiens melanjutkan. Dari sini kota Cahaya terlihat sangat jelas dan semakin dekat.
“Ya, saya juga mau bermalam di sini. Melihat cahaya anggun itu” Jawab Pengembara kaget. Tanpa menoleh pada Ostiens. Seperti tidak ingin memelingkan wajahnya dari cahaya yang dilihat.
Ostiens tersenyum sambil menggelar kain alas tidur di rumput bawah pohon itu dan meletakkan tas yang berisi pakaian ganti di pangkal pohon untuk bantal.
Sampai larut malam, Ostiens dan Pengembara masih duduk mengahadap ke Timur membicarakan cahaya itu dan menceritakan pengalamanya selama diperjalan. Ostiens menceritakan kehidupan mewahnya. Kebiasaanya duduk di beranda rumahnya dan awal ketakjubanya pada cahaya indah itu. Saat Ostiens bercerita, Pengemabara mendengarkan dengan penuh semangat dan haru.
Dengan tatapan yang takjub ke arah Timur. Pengembara menceritakan awal keberangkatanya dan pengelamannya selama berada di Timur yang belum pernah dia temui selama hidup di barat.
“Saya suka berpetualang. Saya pergi ke timur sudah sangat lama. Sejak usiaku waktu itu masih dua puluh tahun. Tidak terasa sekarang usiaku sudah tiga puluh tahun.’ Pengembara menghela nafas panjang. Dia melanjutkan ceritanya “Awalnya saya mengira Timur sangat tidah menarik untuk di kunjungi. Dari beberapa orang yang saya bercerita tentang timur, hampir tidak ada yang menyanjung Timur. Mereka selalu menceritakan Timur daerah yang gersang. Tak ada sumber mata air. Timur seperti hamparan padang pasir yang tidak ada kehidupan. Katanya orang-orang yang sudah pergi ke timur sangat jarang kembali ke barat.
Dari cerita-cerita yang menciutkan nyali itu. Saya justru merasa tertantang pergi ke Timur. Ahirnya, saya memutuskan pergi ke Timur. Tidak ada yang harus kusesali dalam perjalananku. Saya tidak punya keluarga. Tidak punya apa-apa. Saya hanya kuli angkut di pasar. Menerima sedekah dari dermawan yang membantu. Saya tidak membawa bekal apa-apa. Hanya membawa pakaian yang melekat di badan.
Setelah sampai di Timur, ternyata apa yang saya dengar dari orang-orang itu sama sekali tidak benar. Entahlah. Seperti ada membuatku bertahan di Timur. Saya menemukan ketenangan batin yang tak pernah saya rasakan selama hidup di Barat.”
“Mengapa Anda tadi mengatakan Timur hanyalah daerah yang kering gersang dan sepi?’ Ostiens memotong certita Pengembara.
Pengemabra menoleh pada Ostiens “Saya hanya ingin menguji Anda?” Jawabnya dengan santai sambil tersenyum. “ Saya juga mendengar jawaban anda tentang Kota Cahaya. Saya kaget dan seperti cerita lucu. ” Pengembara melanjutkan.
Ostiens tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya diam. Memandang wajah pengembara yang sudah mulai mengantuk.
“Sekarang kita tidur saja. Besok kita melanjutkan perjalanan. Perjalanan saya masih cukup jauh.” Ostiens merebahkan badannya dan berbantal tas yang berisi pakaian.
“Saya masih mau melihat cahaya itu. Mungkin besok saya sudah tidak punya kesempatan melihatnya lagi. Dalam perjalanan saya ke Barat, mungkin sangat jarang sekali menoleh ke Timur. Silahkan Anda tidur lebih dulu.” Jawab Pengemabara yang menahan kantuknya meliha ke langit Timur untuk memandangi cahaya yang mempesona.
***
Sinar matahari pagi membelai lembut wajah Ostiens yang masih tertidur. Kemudian dia erbangun dan langsung menghadap ke arah Timur. Memastikan Kota Cahaya masih ada. Meyakinkan diri dengan harapan yang baru menuju Kota Cahaya.
Pengemabara sudah terbangun lebih dahulu. Ostiens melihatnya dengan heran. Pengembara berdiri tenang di tanah lapang tak jauh dari pohon, menghadap ke Timur.
“Apa yang kau lakukan di sana?” Ostiens bertanya pada Pengembara. Pengembara sedikti tersentak denga pertanyaan Ostiens.
“Melihat cahaya itu. Saya mencoba melihat letak sebenarnya Kota Cahaya itu. Sepanjang perjalanan ke Barat. Kota-kota yang saya lalui tidak ada yang bercahaya seperti itu. Daerah yang sangat cerah seperti yang saya lihat sekarang” Pengembara menjawab dengan wajah seperti merenung dan sedikit menyesal.
“Sekarang, tahukah anda letak Kota Cahaya itu?” Tanya Ostiens bersemngat, berharap Pengembara sudah mengetahui letaknya.
“Saya belum bisa memastikan. Tetapi perkiraan saya, Kota Cahaya itu dekat dari sini. Mungkin lima hari perjalanan lagi” Jawab Pengembara sambil melihat wajah bahagia Ostiens yang sudah berdiri di sampingnya.
“Saya sebenaranya ingin sekali kembali ke Timur bersama Anda. Kita berangkat bersama menuju Kota cahaya itu. Tapi nanti saja saya pikirkan lagi” Pengembara mengutarakan keinginannya sambil memegang pundak Ostiens.
“Saya mau melanjutkan perjalanan ke Timur. Jika Anda memang ingin melajutkan perjalanan ke Barat. Semoga kita masih di beri kesempatan untuk bertemu lagi. Terima kasih perkenalannya. Saya akan mengingat perjumpaan ini. Selamat tingal ” Ostiens berpamitan pada Pengembara yang abru semalam mengenalnya.
“Ya, semoga perjalananmu menyenangkan. Mungkin cukup kusimpan saja cahaya itu dalam hati. Kelak jika kita bertemu lagi. Saya ingin mendengar cerita Anda tentang Kota Cahaya yang telah Anda kunjungi itu” Keduanya berpelukan perpisahan.
Ostiens berjalan menuju matahari yang baru saja terbit. Meninggalkan Pengembara yang masih berdiri kaku melihat cahaya di langit cerah itu.
***
Setelah tiga hari perjalanan. Di sebuah desa yang sunyi. Desa yang sangat sederhana. Bangunannya tidak ada satu pun yang terlihat cukup mewah. Semuanya hamper sama. Beberapa orang yang kebetulan berpapasan denganya selalu menyunging senyum ramah.
Kemudian Ostien melepas lelah duduk di bawah sebuah pohon yang teduh. Sambil mengeluarkan roti yang baru saja dia beli di kota. Dia melihat ada seorang laki-laki tua yang sedang menuju ke arahnya.
“Saya minta rotinya sedikit, nak !” laki-laki tua itu meminta sebagian roti yang sedang Ostiens makan. Dia langsung memberikan roti yang ada di dalam tasnya.
“Terima kasih, nak ” laki-laki tua itu langsung memakan roti itu di depan Ostiens.
Ostiens melihat dengan iba wajah laki-laki tua yang sedang memakan roti seperti tidak peduli dengan sekitarnya dan Ostiens yang sedang memandangnya. Tubuh laki-laki tua itu sudah sangat renta. Kurus sekali. Baju yang dikenakan sudah banyak sobekan, nyaris tidak layak pakai.
Tetapi ada yang membuat Ostiens terperangah kaget melihat laki-laki tua itu. Wajahnya terlihat bersih, seperti ada pancaran sinar dari hati yang suci. Sorot matanya menyiratkan keteduhan dan ketenangan. Pakainya meskipun sudah banyak sobekan sangat bersih. Kulitnya juga bersih. Seperti tida ada debu yang menempel di kulit dan pakainya.
Laki-laki tua itu tidak menghabiskan roti yang dimakanya. Laki-laki tua menyimpanya sisanya di dalam kain lusuh seperti sebuah tas yang disandangnya. Kemudia pergi meninggalkan Ostiens yang sedang duduk heran melihatnya.
Ostiens mengikuti laki-laki tua itu. Terik matahari yang menyengat tidak dia hiraukan. Di tikungan jalan desa yang sepi, Laki-laki tua itu tidak terlihat lagi. Ostiens segera menuju tikungan itu. Laki-laki tua itu tidak ada. Menghilang entah ke mana. Mungkinkah dia sembunyi? Tetapi di tepi sepanjang jalan tidak terlihat ada pohon yang bisa dijadikan tempat bersembunyi. Hanya ada rumah tua yang sudah rusak tak berpenghuni. Tidak mungkin dai sembunyi di rumah itu. Jaraknya dari tikungan agak jauh.
Mendadak suasana menjadi sunyi. Ostien segera berbalik badan dan meninggalkan tikungan itu. Pikirannya masih dipenuhi sosok laki-laki tua yang tiba-tiba menghilang di tikungan jalan desa. Ke manakah laki-laki tua itu? Pikiranyakacau kemarau dengan menghilangnya laki-laki tua itu.
Satu-satunya yang memembebaskan pikiran Ostiens tentang laki-laki tua itu adalah Kota Cahaya di arah timur yang menghilang. Dia kaget ketika melihat ke arah timur, Kota Cahaya yang selama ini menjadi tujuan ahirnya dalam perjalanan ke timur tiba-tiba menghilang begitu saja.
Tubuh Ostiens tiba-tiba lemah. Dia duduk bersimpuh di jalan desa sunyi. Perjalanan bahagia selama berbulan-bulan lamanya demi mengejar impian mengunjungi Kota Cahaya berubah mejadi tangis kesedihan.
Tiba-tiba ada suara yang tidak asing lamat terdengar dari belakang Ostiens. Tetapi tidak dia hiraukan.
“apa yang kaulakukan anak muda?” Suara laki-laki tua yang baru saja dia ikuti dan menghilang.
Air matanya menetes hingga membasahi tanah. Membuat genangan air mata kecil di tanah. Ostiens menoleh ragu ke arah suara di belakangnya sambil berusaha menutupi kesedihannya.
Di terkejut melihat laki-laki tua itu berdiri di belakangnya dengan seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun berpakaian serba hitam yang kumal di sampingnya.
Ostiens berusaha berdiri. Tetapi dia sangat lemah seperti kehilangan seluruh tenaganya. Laki-laki tua dan gadis kecil itu membantu Ostiens berdiri. Laki-laki tua itu memegang pundak dan tangan kananya. Gadis kecil itu memegang tangan kirinya. Dibawa ke rumah tua berjalan dengan tertatih-tatih.
“Biarkan dia tidur di sini dulu” kata laki-laki tua pada gadis kecil itu. Dengan segara gadis itu membersaihkan sebuah papan besar untuk dijadikan tampat tidur Ostiens yang sudah sangat lemah. Dengan hati-hati Ostiens direbahkan. Laki-laki tua itu mengambil kain sarung lusuh untuk selimut Ostiens.
“apakah dia akan baik-baik saja?” Tanya gadis kecil itu pada laki-laki tua.
“dia akan baik saja. Mungkin dia hanya kelelahan” Kata laki-laki tua “ ambilkan air minum”. Lanjutnya. Gadis kecil itu segera pergi mencari air di rumah tua yang kosong itu.
“Minum air ini ” laki-laki tua itu sambil mengangkat kepala Ostiens dan menaruh mangkok berisi air minum.
Saat sudah mulai bisa duduk, Ostiens diam saja. Tak ada suara keluar dari mulutnya, walaupun sebuah desahan. Tatapan matanya selalu kosong. Entah apa yang sedag ada dipikiranya. Kota cahaya yang hilangkah, kekecewaan atau penyesalankah? Tak ada yang bias menebak dari tatapan kosongnya.
Laki-laki tua dan gadis kecil itu duduk berhadapan dengan Ostiens. Mencoba memahami yang ada di hadapanya. Tetapi tatapan Ostiens kosong, sperti tak melihat kedua orang itu di hadapanya.
Hari sudah sudah senja dan gelap mulai merangkak perlahan. Laki-laki tua dan gadis kecil itu keluar meninggalkan Ostiens sendiri di rumah tua. Tak lama kemudian mereka datang gadis kecil itu membawa sepotong roti.
“makan roti ini” kata gadis kecil itu sambil menjukurkan roti pada Ostiens. Tapi dia masih diam saja seperti tidak melihat ap-apa. Tidak melihat siap-siapa. Kemudian roti itu ditaruh di pangkuan Ostiens.
“Ayo, makan rotinya” lanjut gadis kecil itu sedikit memaksa. Ostiens masih saja diam seperti patung.
Malam sudah sangat gelap. Tidak ada lampu di rumah tua itu. Gadis kecil membuat api dengan tumpukan kayu di tengah-tengan mereka. Sekedar menjadi penerang dan penghangat mereka. Laki-laki tua hanya melihat Ostiens mencoba memahami yang sedang ada di hadapanya. Ostiens yang mematung selama berjam-jam tanpa makan minum dan tak banyak bergerak.
Malam sunyi di rumah tua yang kosong di desa sunyi. Malam pertama Ostiens menghabiskan malam duduk tak bersuara dan tak banyak bergerak. Kedua malaikat yang menolongnya sudah tertidur di depanya beralas kain lusuh yang selalu mereka bawa.
Ketika bintang zahrah merekah di langit timur. Laki-laki tua itu bangun dan langsung berlari keluar rumah.
“Bangun..!orang itu tidak ada” Laki-laki tua itu membangunkan gadis kecil yang tidur tak jauh darinya. Dan mereka segera berlari keluar rumah medapati Ostiens sedang berdiri di halaman rumah.
Ostiens melihat ke arah timur, mengharap cahaya yang hilang kembali lagi mempesonanya.